Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Budayawan Tulungagung: Sound Horeg Belum Bisa Disebut Budaya, Tak Ada Nilai-nilai Adiluhung dan Estetika yang Menjadi Dasar

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 30 Juli 2025 | 02:15 WIB

 

Fenomena sound horeg yang belakangan kian menjamur di berbagai pelosok Tulungagung hingga wilayah mendapat sorotan dari kalangan budayawan sekaligus akademisi.
Fenomena sound horeg yang belakangan kian menjamur di berbagai pelosok Tulungagung hingga wilayah mendapat sorotan dari kalangan budayawan sekaligus akademisi.

 

TULUNGAGUNG – Fenomena sound horeg yang belakangan kian menjamur di berbagai pelosok Tulungagung hingga wilayah mendapat sorotan dari kalangan budayawan sekaligus akademisi.

Salah satunya datang dari budayawan muda sekaligus dosen kesenian Universitas Bhineka Indonesia (UBHI) Tulungagung, Ammy Aulia Renata Anny, yang menilai sound horeg masih sebatas “happening sesaat” dan belum bisa dikategorikan sebagai budaya.

“Dalam beberapa aspek, sound horeg memang terlihat masif, peminatnya banyak, pelakunya juga besar. Tapi untuk menyebutnya sebagai budaya, dalam arti sesuatu yang diwariskan, diyakini, dan bertahan lintas generasi, masih belum bisa dipastikan saat ini,” ujar Renata, kepada Radar Tulungagung, Selasa (29/7/2025).

Menurut dia, sebuah budaya sejatinya tidak lahir dalam waktu singkat. Ada nilai-nilai adiluhung dan estetika yang menjadi dasar, yang sayangnya belum terlihat kuat dalam fenomena sound horeg saat ini.

Sebagai penggiat seni pertunjukan, Renata mengaku kurang menikmati sound horeg, terutama karena tingkat kebisingannya yang sangat tinggi.

Dia menilai aspek teknis seperti volume, kualitas suara, hingga jenis instrumen seharusnya disesuaikan dengan karakter dan tujuan pertunjukan.

“Bukan sekadar keras atau memekakkan telinga. Dalam seni pertunjukan, semuanya ada ukurannya antara volume, suasana, bahkan jarak ruang,” jelasnya.

Namun demikian, perempuan yang juga seorang magister seni ini tidak serta merta menolak kehadiran sound horeg. Dia mengakui ada sisi ekonomi yang tak bisa diabaikan.

“Sekali tampil bisa dihargai Rp 15 sampai 20 juta. Itu angka besar dan menunjukkan adanya potensi ekonomi kreatif,” jelasnya.

Meski demikian, dia menekankan pentingnya regulasi. Tanpa aturan yang jelas dan formula penyelenggaraan yang tepat, fenomena ini bisa berumur pendek atau bahkan menimbulkan masalah sosial.

“Perlu ada Batasan jelas. Di mana tempatnya, seberapa maksimal volumenya, siapa yang boleh menonton. Anak-anak, misalnya, sebaiknya tidak dibawa ke acara seperti itu. Dari sisi pendengaran mereka belum siap, apalagi jika ada unsur gerakan atau suasana yang tidak layak ditonton anak,” katanya.

Baca Juga: Praktisi Hukum Asal Tulungagung: Sound Horeg Masuk Ranah Pidana Jika Ganggu Ketertiban Umum, Perbup jadi Alat Kontrol  

Dia juga mengkritisi penyelenggaraan sound horeg yang kerap menggunakan fasilitas umum secara sembarangan, bahkan merusaknya.

Dia berharap ke depan, para pelaku, pemerintah, hingga komunitas dapat duduk bersama untuk merumuskan regulasi yang tepat dan ruang pertunjukan yang tidak mengganggu hak orang lain.

“Kalau memang ingin eksis, buatlah ruang sendiri, komunitas sendiri, iklim yang nyaman bagi penikmatnya, tanpa mengorbankan kenyamanan publik. Semua pihak punya haknya masing-masing. Semoga bisa ditemukan jalan tengahnya,” pungkasnya. (sri/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#akademisi #tulungagung #UBHI PGRI #Ammy Aulia Renata Anny #budayawan #sound horeg