TULUNGAGUNG - Di tengah modernisasi seni, pemuda Tulungagung, Muchamad Riduwan, 26, menghadirkan sebuah karya instalasi yang tidak hanya menyentuh sisi estetika, tetapi juga menggugah kesadaran tentang ruang hidup, relasi antarmanusia, dan keberlanjutan.
Riduwan, sapaan akrab Muchamad Riduwan, warga Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung ini, yang tergabung dalam Kolektif Susur Galur, tampil dalam pameran bertajuk “Kepulauan: Refleksi BIMP-EAGA 2025”. Yaitu sebuah perhelatan seni kontemporer lintas negara yang merefleksikan dinamika kawasan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Filipina (BIMP), khususnya di area pertumbuhan ekonomi kawasan timur ASEAN (EAGA).
Dalam pameran tersebut, Riduwan mempersembahkan karya instalasi berjudul “Mengairi Sekitar, Memaknai Sekumpulan”. "Karya ini menggabungkan teknologi projection mapping, 4 poin holo fan, dan soundscape dalam format seni partisipatif," terang seniman Tulungagung itu, Selasa (29/7/2025).
Sejak itu, Riduwan terus memperdalam praktiknya, berpindah dari satu proyek ke proyek lain, sembari membawa semangat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.
“Bisa ikut pameran seperti ini tentu menyenangkan. Tapi yang paling saya harapkan adalah ruang berjejaring atau belajar dari teman-teman seniman dari berbagai daerah, memahami dinamika budaya kepulauan, serta mengenali keresahan dan harapan yang kita hadapi bersama,” ujarnya.
Riduwan percaya bahwa berkesenian hari ini tidak bisa hanya berpusat pada ekspresi personal. Dia harus hadir di tengah masyarakat, berbicara tentang yang nyata, dan membangun koneksi lintas batas.
“Harapannya, seniman-seniman di mana pun bisa terus berkarya dan saling bertukar pengetahuan. Karena dari situlah kita memperkuat bukan hanya karya, tapi juga ekosistem kesenian itu sendiri,” katanya dengan penuh keyakinan.
Melalui karya “Mengairi Sekitar, Memaknai Sekumpulan”, Riduwan tidak hanya mengalirkan cerita dari Kapuas ke ruang pamer, tetapi juga mengalirkan pesan yang dalam tentang pentingnya kesadaran kolektif terhadap lingkungan, budaya, dan kehidupan bersama.
Dia bukan hanya membawa seni ke tengah masyarakat, melainkan juga membawa masyarakat kembali ke dalam seni. (*/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah