TULUNGAGUNG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun membahas rencana penataan kawasan Stasiun Tulungagung.
Pertemuan ini di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa dan ditemui langsung oleh Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo bersama Vice President PT KAI Daop 7 Madiun, Suharjono, digelar pada Rabu (30/7/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Gatut Sunu menyampaikan dukungan penuh dari Pemkab Tulungagung terhadap rencana pembangunan dan penataan kawasan stasiun di Tulungagung.
Menurut dia, langkah ini penting untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang dan memperlancar lalu lintas di sekitar area stasiun.
“Ya, kami dukung penuh karena ini untuk kenyamanan penumpang. Apalagi lahan yang akan dibangun adalah aset PT KAI,” ujarnya.
Namun, Bupati Gatut Sunu menekankan agar dalam proses pembangunan nanti tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan masyarakat.
“Saya hanya berpesan kepada PT KAI, para pedagang lama yang sudah berjualan di kawasan stasiun jangan ditutup. Tolong diutamakan mereka. Kalau pun ada relokasi, beri tempat yang layak. Jangan masukkan pedagang baru dan abaikan yang sudah lama,” tegas Gatut.
Bupati juga menyarankan agar pelebaran jalan tidak dilakukan dengan penutupan, melainkan dengan pengalihan arus.
Dia berharap seluruh proses penataan bisa dilakukan secara humanis dan tetap memperhatikan kebutuhan warga.
Sementara itu, Vice President PT KAI Daop 7 Madiun, Suharjono, menjelaskan bahwa proyek penataan kawasan Stasiun Tulungagung direncanakan mulai dikerjakan pada awal 2026.
Penataan ini menyasar aspek keamanan dan kenyamanan penumpang. Karena selama ini stasiun Tulungagung langsung berhadapan dengan jalan raya, sehingga cukup berbahaya bagi penumpang kereta api.
“Stasiun Tulungagung langsung menghadap ke jalan raya. Itu tidak aman. Jadi akan kami relokasi, bukan menutup jalan. Area parkir juga akan dimaksimalkan agar satu kawasan terintegrasi,” ungkap Suharjono.
Dengan adanya rencana ini, diharapkan kawasan Stasiun Tulungagung akan semakin tertata, aman, dan nyaman, tanpa mengabaikan aspek sosial serta keberlanjutan ekonomi warga sekitar. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah