TULUNGAGUNG - Di jeda masa tanam padi di tahun ini, produktivitas petani tembakau di wilayah Kabupaten Tulungagung berpotensi merosot dari tahun-tahun sebelumnya. Itu karena musim tanam tembakau di tahun ini diwarnai dengan munculnya musim kemarau basah yang mengganggu kualitas tanaman tembakau.
Sebagai salah seorang petani tembakau di Tulungagung, Endri Cahyono paham betul periode terbaik untuk menanam tembakau. Yaitu pada Juni hingga September. Itu merupakan masa musim kemarau.
Untuk diketahui, tembakau merupakan salah satu jenis tanaman yang akan cepat rusak jika menyerap terlalu banyak air. Itu sebabnya sebagian besar petani tembakau di Tulungagung galau akibat adanya hujan yang masih terjadi di musim kemarau dalam beberapa hari terakhir.
“Petani tembakau memang sangat resah. Karena yang jelas sebagian besar tanamnya tertunda atau bahkan mungkin nanti tidak bisa tanam,” katanya, Rabu (30/7/2025).
Warga Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu ini mengaku, hampir sebagian besar lahan pertanian sudah ditanami tembakau. Tapi, masa tanam di tahun ini mundur akibat kondisi cuaca. Hal ini dikhawatirkan memicu merosotnya tingkat produktivitas saat masa panen nanti.
“Yang lainnya masih berupa tanaman padi. Karena petani ndak bisa menunggu terlalu lama dengan yang tidak pasti,” kata dia.
Itu sebabnya, dia memproyeksikan produksi tembakau di Kabupaten Tulungagung secara umum dan Desa Kendalbulur secara khusus akan mengalami penurunan di tahun ini.
Untuk diketahui, total luasan lahan tembakau di Desa Kendalbulur mencapai 190 hektare (ha). Di bulan ini, jumlah lahan yang ditanami tembakau sudah mencapai 150 ha. 40 ha sisanya, masih berupa lahan tanaman padi.
“Biasanya rendemennya kalau kita panen di bulan September itu per satu kuintal daun basah trajangan non-gula itu biasanya jadinya 13-14 kilogram,” sebutnya.
“Tapi, kalau nanti panen sudah mundur ke bulan Oktober bahkan lebih, mungkin rendemennya itu akan menurun, menurut kebiasaan kita sebagai petani dari tahun-tahun yang sebelumnya,” sambungnya.
Nah, penurunan jumlah produksi tentu juga akan berdampak pada harga. Menurut Endri, harga tembakau akan mengalami peningkatan begitu stok di petani minim.
Meski hal ini bisa jadi sinyal positif bagi petani, Endri menegaskan bahwa petani juga masih dalam “taruhan” karena ada potensi gagal panen jika intensitas hujan meningkat dalam dua bulan ke depan.
“Akan sangat menguntungkan, kalau bisa panen lho,” ucapnya lantas terkekeh.
Selain dihantui potensi penurunan jumlah produksi, potensi penurunan kualitas tembakau juga jadi hal lain yang dikhawatirkan Endri.
Peningkatan kadar air tanah disebut memicu penurunan kualitas daun tembakau berikut kadar nikotin yang dikandungnya.
“Walaupun ini ndak diguyur hujan, biasanya produksi itu tetap akan turun. Karena yang biasanya terkandung di dalam tembakau itu kan nikotin. Mungkin karena cuacanya sudah ndak pas, itu kandungan nikotin juga menurun,” ujarnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah