TULUNGAGUNG – Kasus penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak di Tulungagung memang melandai dalam beberapa bulan terakhir. Tapi, proses vaksinasi terus dijalankan.
Itu dilakukan sebagai langkah preventif kembali munculnya PMK di Tulungagung saat masa peralihan musim nanti.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan(Disnak Keswan) Kabupaten Tulungagung, Mulyanto menerangkan, kewaspadaan terhadap potensi kembali munculnya PMK harus dijaga.
“Biasanya kondisi peralihan, terutama pada waktu musim kemarau ke musim hujan. Kelembaban tinggi menyebabkan mikroorganisme berkembang,” sebutnya, Rabu (30/7/2025).
Vaksinasi di tiap-tiap desa terus digelar. Satu ekor sapi sapi bisa divaksin hingga empat kali. Lalu, jenis hewan ternak dengan ukruan lebih kecil bisa divaksin hingga tiga kali.
“Ini terus dilakukan. Nanti sekitar bulan November kita juga harus waspada,” sebutnya.
Dropping vaksin dari pemprov maupun pemerintah pusat juga terus dilakukan. Terakhir, pemkab menerima sebnyak 552 botol vaksin atau setara 13.800 dosis vaksin ternak dari pemerintah pusat di bulan ini. tepatnya, pada 11 Juli lalu.
Vaksin segera disalurkan ke masing-masing ke puskeswan di berbagai wilayah di Tulungagung. Lalu, sejumlah dosis vaksin juga disimpan di kantor dinas sebagai stok.
“Nanti kalau puskeswan stok (vaksin) menurun, ya kita dropping,” tandasnya.
Disinggung soal kembali meningkatnya potensi munculnya PMK di musim penghujan di akhir tahun ini, Mulyanto menerangkan bahwa hal ini juga jadi perhatian.
Tapi, dropping vaksin merupakan kewenangan pemerintah pusat dan pemprov. itu sebabnya Mulyanto belum dapat berbicara banyak soal kemungkinan kembali menerima dosis vaksin.
“Kalau jumlah vaksin itu kan tergantung jumlah sumber dana. Kita kan juga gak tahu. Tidak bisa memprediksi anggaran dari pusat berapa, provinsi berapa,” katanya.
Secara umum, menurut Mulyanto, cakupan vaksinansi PMK di Tulungagung terbilang lebih baik dari daerah lain. Berdasarkan analisa dinas, penyebaran PMK di Tulungagung diduga diakibatkan oleh lalu lintas ternak antara Tulungagung dengan daerah lain.
“Melihat pengalaman pada waktu akhir 2024 kemudia juga awal tahun 2025, penyebaran di Kabupaten Tulungagung itu berawal dari daerah lain yang cakupan vaksinnya belum tinggi,” tegasnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah