TULUNGAGUNG - Di kota besar, orang rela membayar mahal untuk mendengar suara alam rekaman gemericik air, angin berhembus, atau suara binatang malam. Tapi di Tulungagung, semua itu hadir gratis setiap malam.
Begitu matahari tenggelam dan lampu rumah mulai menyala di Tulungagung, muncullah orkestra alami yang pelan-pelan membungkus suasana suara kodok dari sawah, nyanyian jangkrik dari balik semak, kadang diselingi dengungan motor jauh di kejauhan.
Inilah musik malam Tulungagung. Bukan dari speaker, bukan dari playlist streaming tapi dari alam sendiri. Bagi warga sini, suara-suara itu bukan gangguan.
Justru jadi semacam white noise alami yang menenangkan, menemani saat menyapu sore, ngopi di teras, atau menutup mata di kasur bambu.
Suara ada yang bilang, suara jangkrik dan kodok itu seperti penanda waktu.
Ketika mereka mulai bersahutan, itu artinya malam sudah benar-benar datang.
Kadang juga jadi latar suara saat anak-anak menyelesaikan PR, atau orang tua ngobrol ringan sambil minum teh.
Uniknya lagi, ketika perantau asal Tulungagung pulang kampung, banyak dari mereka yang bilang: yang paling dirindukan bukan hanya nasi pecel atau udara segar, tapi juga suara malam yang khas ini.
Suara yang mungkin dulu dianggap biasa saja, kini terasa seperti pelukan hangat dari kampung halaman.
Karena di balik riuhnya kodok dan jangkrik, tersembunyi kenangan, ketenangan, dan identitas suara yang tak bisa dicari ulang di tempat lain. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah