TULUNGAGUNG – Menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), berbagai sektor menafsirkan makna kemerdekaan dari sudut pandangnya masing-masing. Bagi Hadi Wijayanto, SPd, MPd, seorang pengamat pendidikan asal Tulungagung, kemerdekaan sejati dalam dunia pendidikan belum sepenuhnya tercapai.
Menurut Hadi, kemerdekaan dalam pendidikan adalah kebebasan dalam memperoleh pendidikan yang layak bagi seluruh rakyat, tanpa memandang usia, kondisi, maupun latar belakang ekonomi termasuk di Tulungagung.
“Pendidikan yang merdeka itu ketika setiap individu bisa belajar sesuai bakat dan minatnya, bukan sekadar mengikuti kurikulum kaku yang seragam,” ujarnya, warga Kecamatan Kalidawir, Tulungagung ini.
Namun kenyataan di lapangan, lanjut Hadi, masih jauh dari harapan. Dia menyoroti masih banyak anak-anak putus sekolah, keterbatasan fasilitas belajar di sejumlah daerah, serta nasib tenaga pendidik belum sejahtera.
Termasuk di Tulungagung. Faktanya, menurut Hadi, di Kota Marmer ini masih banyak anak usia sekolah tidak mendapat hak sebagaimana mestinya sebagai pelajar.
Lebih miris lagi, banyak anak-anak usia pelajar yang putus sekolah karena bekerja untuk sekadar menyambung kehidupannya.
Tidak hanya itu, di Bumi Ngrowo ini, Hadi melihat banyak fasilitas pendidikan kurang layak. Sehingga pastinya berpengaruh pada proses belajar mengajar. Akibatnya para siswa yang bersekolah di tempat kurang layak itu menjadi kurang maksimal dalam memperoleh ilmu.
“Masih banyak guru hidupnya belum merdeka karena gaji kurang layak. Ini ironi di tengah semangat kemerdekaan,” tegasnya.
Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80, menurut Hadi, seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi bersama dan membangun komitmen kolektif demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Kemajuan bangsa tak lepas dari kualitas pendidikannya. Mari bahu-membahu mewujudkan kemerdekaan sejati dalam dunia pendidikan,” pungkasnya. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah