Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hama Wereng Serang 30 Hektare Sawah di Notorejo Tulungagung dan Petani Terancam Gagal Panen, Harapan Bertumpu pada Bantuan Pemerintah

Rinto Wahyu Hidayat • Selasa, 5 Agustus 2025 | 16:30 WIB

 

Hama wereng putih dalam dua pekan terakhir memporak-porandakan tanaman padi warga Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung.
Hama wereng putih dalam dua pekan terakhir memporak-porandakan tanaman padi warga Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung.

 

TULUNGAGUNG – Sektor pertanian di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, tengah menghadapi ujian berat.

Serangan hama wereng putih dalam dua pekan terakhir memporak-porandakan tanaman padi warga yang berbatasan antara Tulungagung Trenggalek tersebut.

Sebagian besar sawah yang seharusnya bersiap panen kini terancam gagal total. Harapannya Pemkab Tulungagung melalui dinas terkait bisa intens turun tangan.

Kondisi ini menjadi sorotan serius, terlebih serangan terjadi menjelang masa panen, di mana petani menggantungkan harapan ekonomi keluarga.

Dari laporan yang dihimpun, sekitar 30 hektare lahan terdampak, dengan wilayah dusun Karangtengah menjadi yang paling parah, disusul kawasan
Dusun Glonggong dan Sumber.

"Kami pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas, mewakili masyarakat petani, berharap pemerintah lebih tanggap. Hama wereng ini sangat merugikan. Tanaman padinya mengering sebelum waktunya," ujar Mustaqim, Penanggung Jawab Pemerintahan Desa Notorejo, saat diwawancarai di balai desa setempat, Senin (4/8/2025).

Meski penyemprotan massal sudah dilakukan secara sinergis antara pemerintah desa dan kelompok tani, serangan hama masih sulit ditekan.

Petani mengandalkan obat metahipo bantuan dari Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Tulungagung yang disalurkan pada (27/7/2025).

Namun, jumlahnya belum mencukupi. Dua kelompok tani Serba Usaha 1 dan Serba Usaha 2 hanya menerima masing-masing 10 botol obat.

Sebagian hama memang bisa ditekan, tapi masih banyak yang bertahan.

Banyak petani terpaksa membeli obat sendiri dengan harga cukup mahal.

Padahal, lanjut Mustakim, jika dihitung, pendapatan dan pengeluaran bisa impas atau bahkan merugi.

Meskipun pemerintah dinilai cepat merespons laporan awal, masyarakat berharap intervensi lebih lanjut yang lebih intensif.

Selain distribusi obat yang lebih banyak dan merata, efektivitas jenis obat juga perlu ditinjau ulang.

“Kami butuh pengobatan yang lebih efektif. Kalau dibiarkan, potensi gagal panen makin besar,” tegas Mustaqim.

Koordinasi dengan Dinsperta Tulungagung terus dilakukan.

Namun Mustaqim menilai, sinergi lintas lembaga harus diperkuat agar sektor pertanian tidak terus-menerus menjadi korban keterlambatan penanganan.

Dari luasan terdampak sekitar 30 hektare, hanya diperkirakan 40 persen yang masih berpotensi panen. Itu pun dalam kondisi tidak maksimal.

"Yang kemarin hasil panennya bagus, tapi tahun ini serangan datang tiba-tiba. Ini kehendak Allah, tapi kita wajib ikhtiar. Harapan kami, pemerintah daerah termasuk Bupati dan Dinas Pertanian bisa membantu lebih serius,” ujar Mustaqim, yang telah menjabat sejak 2007.

Masalah hama bukan sekadar persoalan teknis, tapi menyangkut hajat hidup para petani.

Kegagalan panen berarti ancaman nyata terhadap ketahanan pangan lokal dan ekonomi desa.

Desa Notorejo sebagai salah satu sentra pertanian Tulungagung membutuhkan strategi perlindungan yang lebih kuat, terutama saat menghadapi fenomena iklim tak menentu dan serangan hama mendadak.

"Jangan sampai warga kelaparan karena gagal panen. Pemerintah harus hadir bukan hanya saat panen raya, tapi justru saat krisis seperti ini,” pungkas Mustaqim. (rin/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#gagal panen #tulungagung #Desa Notorejo #hama wereng