Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Psikolog Klinis Asal Tulungagung Sebut Perceraian Orang Tua Bisa Tinggalkan Luka Psikologis Mendalam pada Anak  

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 6 Agustus 2025 | 17:00 WIB

 

Kasus perceraian yang semakin marak terjadi di Kabupaten Tulungagung bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, namun juga anak.
Kasus perceraian yang semakin marak terjadi di Kabupaten Tulungagung bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, namun juga anak.

TULUNGAGUNG – Kasus perceraian yang semakin marak terjadi di Kabupaten Tulungagung bukan hanya berdampak pada pasangan suami istri, namun juga membawa pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak.

Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog Klinis, Yowanda Destian D. R, M.Psi., asal Desa Pulerejo, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung.

Menurut Yowanda, kondisi psikologi anak hampir pasti terpengaruh ketika orang tuanya bercerai. " Terlebih jika proses perceraian tersebut berlangsung dengan tidak sehat, seperti disertai kekerasan, pertengkaran, atau perilaku menyimpang lainnya," terangnya kepada Radar Tulungagung (5/8/2025).

“Anak akan mengalami perubahan emosi, yang ditandai dengan gejala seperti mudah marah, cenderung sedih, khawatir, hingga kebingungan. Hal-hal tersebut bisa berkembang menjadi trauma tersendiri,” imbuh Yowanda. 

Yowanda menambahkan, dampak psikologis tersebut bisa berbeda-beda tergantung pada usia anak dan cara orang tua menjalani proses perceraian.

Anak yang sudah berusia dewasa atau lebih matang secara emosional umumnya lebih mampu menghadapi situasi tersebut dibandingkan anak-anak di bawah umur.

“Respons anak terhadap konflik orang tua juga tergantung bagaimana orang tua menyikapinya. Ketika mereka mampu menjelaskan situasi dengan baik dan mengondisikan lingkungan anak, maka respon emosional anak bisa lebih stabil,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Yowanda menyoroti pentingnya peran sekolah dan lingkungan sekitar dalam memberikan dukungan bagi anak yang berasal dari keluarga broken home.

Dukungan yang baik dari lingkungan dapat membantu menyeimbangkan emosi negatif yang dirasakan anak.

“Support system yang baik sangat penting. Jika anak merasa diperlakukan tidak pantas atau mengalami kekerasan selama proses perceraian, maka trauma yang ditimbulkan bisa berkembang menjadi kecemasan berlebih, agresivitas, hilangnya rasa percaya diri, hingga depresi,” paparnya.

Untuk itu, dia menekankan pentingnya peran orang tua pasca perceraian dalam memulihkan kondisi psikologis anak.

Salah satu langkah yang sangat disarankan adalah segera membawa anak ke tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

“Jangan tunggu sampai kondisinya memburuk. Penanganan sejak dini sangat penting agar anak tidak terpapar dampak-dampak yang tidak diinginkan ke depannya,” pungkasnya. (sri)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #psikologis anak #Yowanda Destian D R