TULUNGAGUNG – Rencana penataan dan perluasan area Stasiun Tulungagung yang akan dimulai pada tahun 2026 oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop VII Madiun memunculkan beragam reaksi dari masyarakat yang menggantungkan penghidupan di sekitar area stasiun.
Diberitakan sebelumnya, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan ini.
Menurut DIA, langkah PT KAI sejalan dengan upaya peningkatan kualitas layanan transportasi kereta api di Tulungagung.
Meski demikian, dia menekankan bahwa kepentingan warga yang selama ini beraktivitas di kawasan tersebut juga harus diutamakan.
“Pembangunan ini penting untuk kenyamanan pengguna jasa kereta api. Tapi, kita juga harus adil. Banyak masyarakat yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di sekitar stasiun. Mereka harus tetap diberi perhatian,” ujar Bupati Gatut Sunu.
Area yang akan diperluas memang merupakan lahan milik PT KAI, tetapi telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan usaha seperti berdagang dan membuka kios.
Salah satu warga, Diyah Ekawati, penjual kelontong yang berjualan sejak tahun 1980-an di depan gerbang keluar Stasiun Tulungagung, menyampaikan keprihatinannya atas rencana pembangunan ini.
“Kalau dibangun, tentu ada dampak untuk jualan saya. Tapi, saya berharap tetap diberi tempat yang layak untuk keluarga saya agar bisa tetap berjualan,” ujarnya.
Diyah mengaku memahami bahwa tanah tersebut merupakan milik PT KAI.
Senada dengan Diyah, Yulis Muktiani, pemilik kedai soto yang telah menyewa kios di area stasiun sejak 1997, juga berharap adanya solusi yang berpihak pada pedagang kecil.
“Saya sudah dengar soal perluasan itu. Kalau nanti benar-benar terdampak, saya cuma berharap masih bisa diberi tempat di sekitar sini," katanya.
"Saya sewa dua kios, setahun habis Rp 12 juta. Kalau dipindah, saya belum yakin jualan saya bisa seramai biasanya. Ini ibaratnya sawah saya untuk mencari rezeki ya di sini,” imbuhnya.
Namun tidak semua warga menyatakan keberatan. Agus Basroni, penjual sate kambing yang juga berjualan di area yang akan diperluas, justru menyatakan dukungan penuh terhadap rencana PT KAI tersebut.
“Saya tidak khawatir sama sekali. Mau dipindah atau bagaimanapun, saya dukung sepenuhnya. Ini demi kemajuan perkeretaapian di Tulungagung,” tegas Agus.
Hingga kini, PT KAI Daop VII Madiun belum merilis detail teknis mengenai bagaimana proses relokasi dan solusi untuk para pedagang terdampak akan dilakukan.
Namun, masyarakat berharap agar proses pembangunan tetap memperhatikan keberlangsungan hidup mereka yang telah lama beraktivitas di sekitar stasiun. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah