RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak kampung di Tulungagung, pemandangan jalanan desa yang dipenuhi tikar anyaman bambu atau terpal biru bukanlah hal aneh.
Di atasnya, gabah kuning keemasan terhampar, memantulkan cahaya matahari sambil menguarkan aroma khas padi kering.
Itulah tradisi jemur padi di badan jalan, sebuah kebiasaan yang tak hanya soal mengeringkan hasil panen, tetapi juga merangkai cerita antarwarga.
Pagi hari, aktivitas dimulai. Warga mengeluarkan karung-karung gabah hasil panen, menebarkannya merata.
Sambil sesekali mengaduk gabah dengan garpu jemur, mereka saling menyapa tetangga yang lewat.
Obrolannya bisa soal harga gabah, kabar keluarga, hingga candaan ringan yang mengundang tawa. Jalan kampung pun seolah berubah menjadi “ruang tamu” terbuka yang menyatukan semua orang.
Meski kadang membuat kendaraan harus melambat atau memutar, warga jarang mempermasalahkannya.
Justru, banyak yang memanfaatkan momen itu untuk berhenti sejenak, membantu membalik gabah, atau sekadar nimbrung ngobrol.
Tradisi ini mungkin akan berkurang seiring hadirnya mesin pengering modern.
Namun, bagi banyak orang desa, jemur padi di jalan bukan hanya soal teknis pertanian, melainkan warisan rasa kebersamaan sebuah momen di mana matahari mengeringkan gabah, dan tawa menghangatkan hati.
Editor : Dharaka R. Perdana