Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menakar Kemerdekaan dari Perspektif Ulama Tulungagung, Mencintai Tanah Air itu Sebagian dari Iman

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 15 Agustus 2025 | 22:34 WIB

Photo
Photo

 

 

TULUNGAGUNG – Kemerdekaan Indonesia perlu dimaknai secara jernih dan mendalam, tidak sekadar sebagai perayaan seremonial setiap 17 Agustus.

Pandangan itu disampaikan KH Abu Muslich, Pengurus Majelis Taklim Iqra Desa Sambitan, Kecamatan Pakel, Tulungagung, ketika merefleksikan makna kemerdekaan di usia ke-80 tahun bangsa ini.

Menurut dia, kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Baca Juga: Awet Bikin Kenyang: Inilah Makanan Para Pejuang Kemerdekaan Saat Perang, Pernah Nyoba?

Sebab, pada 17 Agustus 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum terbentuk.

“Bahkan, NKRI itu sendiri tidak pernah dijajah. Yang dijajah selama puluhan hingga ratusan tahun adalah bangsa Indonesia,” tegasnya.

Kiai Abu Muslich menjelaskan, jika menelaah teks Proklamasi 17 Agustus 1945, yang disebut adalah kemerdekaan bangsa Indonesia. Atas namanya pun bangsa Indonesia.

Baca Juga: Terasa Nyata, Museum Perjuangan Yogyakarta Bikin Kita Tak Lupa Arti Kemerdekaan

“RI baru disusun setelah bangsa Indonesia merdeka, lalu Bung Karno dan Bung Hatta dipilih serta ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden,” imbuhnya.

Dia menekankan, ada keistimewaan tersendiri dari kemerdekaan Indonesia yang tidak dimiliki negara lain di dunia.

Yakni pengakuan bahwa kemerdekaan diperoleh “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa”, sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945.

Hal itu, menurut dia, menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia menjunjung tinggi semangat spiritualitas dalam bernegara.

“Bahkan dasar negara kita, Pancasila, pada sila pertamanya menegaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini selaras dengan seluruh agama yang dianut di Indonesia, bukan hanya Islam,” ujar Kiai Abu Muslich.

Dia menegaskan, maka mencintai, menjaga, dan membela tanah air juga merupakan ajaran para ulama Indonesia.

Dan wajib bagi seluruh umat Islam di Indonesia, terlebih di Bumi Ngrowo ini.

Baca Juga: Dari Rotterdam ke Proklamasi, Mengingat Kembali Jejak Diplomasi Genius Mohammad Hatta untuk Kemerdekaan Indonesia

“Bagi umat Islam, hal ini bahkan menjadi kewajiban. Karena mencintai tanah air adalah bagian dari iman,” tuturnya. 

Dengan demikian, dia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Tulungagung untuk tidak hanya merayakan kemerdekaan dengan pesta atau lomba.

Tetapi juga memperkuat semangat persatuan, ketaatan pada ajaran agama, dan kesadaran menjaga keutuhan bangsa. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #17 agustus #kemerdekaan indonesia