Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Penjual Mainan Tradisional Keliling Tulungagung, Menjaga Kenangan di Tengah Gempuran Gawai

Yoga Dany Damara • Minggu, 17 Agustus 2025 | 04:55 WIB

Di tangan anak-anak, mainan-mainan itu bukan sekadar barang. kapal otok-otok masih bertahan hingga saat ini
Di tangan anak-anak, mainan-mainan itu bukan sekadar barang. kapal otok-otok masih bertahan hingga saat ini

RADAR TULUNGAGUNG - Pagi di Tulungagung masih berembun. Dari kejauhan, terdengar derit roda sepeda tua yang menyusuri jalan kampung.

Keranjang besar di belakangnya penuh warna kitiran bambu yang berputar saat terkena angin, kapal otok-otok dari kaleng yang tersusun rapi, hingga balon tiup yang mengkilap di bawah cahaya matahari.

Setiap kayuhan sepeda membawa jejak masa lalu. Suara peluit kecil yang sesekali ditiup menjadi penanda kedatangannya.

Baca Juga: Bikin Kangen, Berikut 10 Mainan Jadul yang Digemari Anak-anak Generasi 2000-an

Anak-anak yang sedang bermain langsung menoleh, beberapa berlari pulang mengambil uang receh, yang lain hanya berdiri memandang penuh penasaran.

Di tangan anak-anak, mainan-mainan itu bukan sekadar barang. Kitiran bambu akan berputar kencang saat dibawa lari, kapal otok-otok akan mengeluarkan bunyi ritmis saat terapung di ember atau selokan kecil.

sementara balon tiup akan mekar perlahan dengan aroma plastik yang khas, lalu diikat menjadi bentuk unik.

Sepanjang perjalanan, suasana berubah menjadi kecil tapi hangat. Tawa anak-anak pecah saat kitiran terlepas dari genggaman dan terbang terbawa angin.

Baca Juga: Mainan Alam Desa di Tulungagung, Tawa Anak-Anak Tradisi yang Masih Hidup saat Gadget Tak Bisa Gantikan Keceriaan Sore di Lapangan Desa

Ada juga yang langsung berjongkok di tepi jalan, menuang air ke kapal otok-otok dan menyalakan sumbu, lalu mengagumi bagaimana mainan sederhana itu bergerak di permukaan air.

Di era serbadigital, pemandangan ini seperti potongan masa lalu yang lolos dari ingatan. Tak ada layar sentuh, tak ada koneksi internet hanya gerak, bunyi, dan rasa penasaran yang tulus.

Mainan-mainan ini tak pernah membutuhkan baterai, tak pernah meminta update, tapi mampu memberi hiburan yang sama sekali tak kalah magis.

Baca Juga: Mainan Jadul di Tulungagung yang Masih Dibuat Manual dari Gasing Kayu sampai Balon Tiup Odol

Menjelang siang, sinar matahari semakin terik. Sepeda tua itu terus bergerak, meninggalkan gang demi gang, membawa sisa mainan yang belum terjual. Di beberapa tempat, ia mungkin tak lagi disambut ramai.

Namun di sudut-sudut tertentu, masih ada anak-anak yang menunggu, berharap mendengar suara peluit itu lagi.

Hari akan berganti, begitu pula waktu. Tapi selama roda sepeda tua itu masih berputar dan warna-warni kitiran masih menghiasi keranjang, kenangan masa kecil di Tulungagung akan tetap hidup terus berputar, seperti bilah bambu yang tak lelah menari dihembus angin. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #mainan #tradisional