RADAR TULUNGAGUNG - Di beberapa sudut kampung di Tulungagung, pemandangan sandal jepit bolong masih akrab ditemui.
Entah itu yang ujung sandal jepit sudah sobek, talinya diganti kawat, atau bahkan yang sudah tipis seperti kerupuk.
Tapi anehnya, tetap dipakai. Bahkan, tak jarang dijadikan "seragam wajib" saat ke sawah, nyangkul, atau sekadar ke warung depan rumah.
Baca Juga: Fashion Warga Tulungagung, Sandal Jepit ke Mana-Mana, Gaya Hidup Sederhana, Rasa Percaya Diri Tinggi
Sandal jepit bolong ini bukan cuma soal fungsinya. Ia adalah simbol ketangguhan. Meskipun terlihat usang, justru di situlah nilainya.
Ada semacam filosofi sederhana dari warga desa selama masih bisa dipakai, kenapa harus dibuang?
Bahkan ada yang dengan bangga menunjukkan sandal jepitnya yang sudah bertahan lebih dari lima tahun.
Talinya mungkin sudah lima kali diganti kadang pakai kawat, tali rafia, bahkan dijahit pakai kawat jemuran. Tapi tetap nyaman di kaki pemiliknya.
Baca Juga: Liga Kampung Setiap Sore Anak Tulungagung, Gawang Sandal, dan Sorak Sorai sebelum Matahari Terbenam
Yang membuat kisah ini makin menarik, banyak yang menganggap sandal jepit bolong sebagai benda sentimental.
Ada yang masih menyimpannya karena itu "sandal warisan bapak", ada pula yang mengaku lebih cocok pakai sandal bolong ketimbang sandal baru karena "sudah nyatu sama kaki".
Di grup-grup WhatsApp kampung, foto-foto sandal bolong ini kadang jadi bahan guyonan. Misalnya, ada yang membandingkan sandal jepitnya dengan "hubungan asmara yang banyak luka tapi tetap bertahan."
Entah kamu anak kota, anak desa, pelajar, buruh, atau petani, hampir semua orang pasti pernah punya momen dengan sandal jepit seperti ini.
Momen ke sekolah, ke masjid, lari-larian waktu kecil semua jejak itu terekam di tapak sandal yang sudah aus.
Di balik bentuknya yang sederhana, sandal jepit bolong ini menyimpan nilai kesederhanaan, kesetiaan, dan semangat nggak gampang nyerah.
Mungkin itu sebabnya, meski murah dan sering diremehkan, dia tetap bertahan sebagai alas kaki sejuta umat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana