RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan jajanan, pernahkah warga Tulungagung bertanya-tanya masih bisa beli apa sih dengan uang Rp2.000 di tahun 2025?
Di kota kecil seperti Tulungagung, pertanyaan ini berubah jadi tantangan seru yang membuka mata soal nilai uang, daya beli, dan kreativitas warga lokal.
Coba menyusuri beberapa sudut kampung dan pasar tradisional Tulungagung dengan satu misi belanja keliling hanya bermodal Rp 2.000!
Baca Juga: Makanan yang Tak Pernah Mati Gaya : Mie Ayam Jadi Kuliner Favorit Anak Muda Zaman Sekarang
Meski tak bisa dibandingkan dengan zaman dulu, masih ada beberapa jajan murah yang bisa didapat.
Contohnya kerupuk rambak mini 1 plastik dijual Rp1.000 per bungkus kecil, kriuknya tetap memuaskan.
Selain itu juga ada es loli warna-warni Rp 500 - Rp1.000, masih jadi favorit anak-anak sekolah.
Baca Juga: Makanan Paling Flavorful dari Tulungagung, Lodho Ayam menjadi Legenda Kuliner
Tidak ketinggalan permen tradisional bungkus kertas 4-5 biji seharga Rp2.000. Bahkan jajan pasar mini seperti gethuk, klepon kecil, atau cenil kadang dijual satuan Rp1.000 dapat dua.
Peyek atau wajik di warung depan rumah masih bisa dapat sepotong kecil buat pengganjal lapar.
Yang menarik, bukan hanya apa yang bisa dibeli, tapi juga interaksi dengan penjual. Beberapa bahkan memberikan bonus kecil, karena merasa ikut "nguri-uri" budaya jajan murah dan lucu ini.
Baca Juga: Bel Sekolah dan Penjual Jajanan di Tulungagung jadi Duet Setia di Depan Gerbang
Eksperimen ini bukan cuma tentang makanan murah, tapi juga membuka obrolan tentang realita ekonomi warga, perubahan harga, hingga betapa nostalgia itu bisa dibungkus dalam sepotong jajan kecil.
Anak-anak yang dulu beli ciki seribuan, kini sudah jadi orang tua tapi jajan murah tetap dicari, walau hanya demi kenangan masa kecil. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana