TULUNGAGUNG - Pernah ada masa ketika batu akik menjadi simbol gaya hidup di Tulungagung. Sekitar tahun 2014–2015, demam akik merambah hampir semua kalangan di Kota Marmer.
Di Tulungagung, tren ini bukan sekadar ikut-ikutan tapi menjadi denyut ekonomi baru yang hidup di pasar-pasar, pinggir jalan, hingga ruang tamu warga.
Baca Juga: Alasan Kenapa Orang Tulungagung Bangga Punya Batu Akik
Tulungagung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu alam, termasuk batu akik.
Warna-warni batu dari pegunungan sekitar, seperti Wilis dan sekitarnya, dipoles menjadi perhiasan yang tak hanya indah, tapi juga dipercaya membawa tuah. Setiap jenis batu punya cerita, setiap goresan punya makna.
Baca Juga: Di Pedesaan Tulungagung, Ngombe Daun Sirih Tradisi Aneh Tapi Nyata
Namun seperti banyak tren lainnya, demam batu akik tidak bertahan lama. Hanya dalam hitungan tahun, keramaian berubah menjadi keheningan.
Kios-kios tutup, alat pemotong berdebu, dan pasar akik sepi peminat. Banyak orang beralih ke pekerjaan lain, meninggalkan koleksi yang dulu mereka banggakan.
Kini, jejak kejayaan itu masih tersisa di sudut-sudut rumah atau pasar loak.
Beberapa cincin akik teronggok di laci, menjadi benda nostalgia bukti bahwa pernah ada masa ketika batu menjadi pusat perhatian.
Yang menarik, batu akik sebenarnya bukan sekadar tren musiman. Di balik kilaunya, tersimpan potensi budaya dan ekonomi lokal.
Proses penambangan, pemilihan, pemotongan, hingga pemolesan adalah keterampilan yang tak sembarangan. Butuh ketelatenan, rasa seni, dan pengalaman panjang.
Sayangnya, keterampilan ini mulai terpinggirkan. Generasi muda lebih tertarik pada tren digital dibanding kerajinan tangan.
Padahal, jika diwariskan dengan baik, dunia akik bisa menjadi bagian dari edukasi geologi, seni kerajinan, bahkan daya tarik wisata lokal.
Meski gaungnya tak sekeras dulu, batu akik tetap punya tempat bagi mereka yang melihat lebih dalam.
Kini, bukan lagi soal gengsi memakai akik, tapi bagaimana merawat cerita di balik batu.
Beberapa komunitas kecil mulai kembali menghidupkan hobi ini, bukan sebagai tren massal, tapi sebagai bentuk apresiasi terhadap warisan budaya yang nyaris terlupakan.
Tulungagung pernah bersinar lewat batu akik dan mungkin bisa bersinar lagi, jika masyarakat dan generasi muda mulai meliriknya sebagai kekayaan, bukan sekadar kenangan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana