RADAR TULUNGAGUNG - Di sudut kampung Tulungagung, ada warung kopi sederhana yang tampaknya tak pernah kenal kata sepi.
Warung unik di Tulungagung biasanya nangunannya sederhana saja, cuma terpal biru yang setengah bolong, meja kayu yang mulai miring, dan kursi plastik yang kadang lebih banyak lubangnya daripada utuhnya.
Tapi anehnya, tiap pagi sampai malam, warung ini selalu ramai di Tulungagung. Bukan karena menunya yang istimewa karena yang dijual cuma kopi sachet dan gorengan yang digoreng seadanya tapi karena suasananya yang luar biasa.
Baca Juga: Tulungagung: Kota Marmer dan Seribu Warung Kopi, Warisan Sejarah hingga Inovasi Ekonomi
Warung ini jadi semacam "markas besar" bapak-bapak. Dari petani, tukang, sopir angkot, sampai pensiunan guru, semua tumplek blek di sini.
Pagi-pagi obrolannya soal harga pupuk dan cuaca. Siang sedikit, mulai bergeser ke cerita proyek jalan dan keluhan cicilan motor.
Malamnya, giliran debat bola yang bikin volume suara naik level, apalagi kalau sudah bahas siapa yang lebih jago Messi atau Ronaldo.
Baca Juga: Rapat Harian Pagi Ala Bapak-Bapak Tulungagung di Warung Kopi Pinggir Jalan
Uniknya, warung ini juga punya "aturan tak tertulis" yang cuma dimengerti anggotanya.
Misalnya, siapa pun yang datang terakhir harus rela duduk di kursi paling goyang. Dan jangan harap bisa main HP lama-lama, karena pasti langsung disoraki: "Ngapain ke sini kalau cuma buat mainan layar, Bro?"
Buat orang luar, mungkin ini cuma warung kopi biasa. Tapi bagi warga sekitar, ini tempat curhat, tempat bercanda, tempat rehat sejenak dari kerasnya hidup.
Baca Juga: Warung Kelontong Tulungagung di Pinggir Gang Detak Jantung Kecil Ekonomi
Tempat di mana secangkir kopi sachet yang diseduh air termos bisa mengikat pertemanan bertahun-tahun lamanya.
Dan kalau kamu mampir, jangan kaget kalau kamu disambut seolah sudah langganan lama.
Karena di warung ini, semua orang dianggap teman, asal tahu cara nimbrung di obrolan tanpa sok tahu. ****
Editor : Dharaka R. Perdana