TULUNGAGUNG – Fenomena anak balita hingga usia sekolah yang akrab dengan gawai, kini menjadi sorotan serius. Pasalnya, banyak orang tua di Tulungagung yang kebiasaan memberikan gawai kepada anak usia dini agar tidak rewel.
Padahal, hal tersebut berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak di Tulungagung. Terlebih akan berdampak gangguan otak pada anak.
Hal itu diungkapkan oleh tokoh dari Tulungagung dan anggota DPR RI Komisi IX, Heru Tjahjono, yang berfokus pada ruang lingkup tugas di bidang kesehatan, ketenagakerjaan, dan kependudukan.
Dia menyebut bahwa kebiasaan memberikan gawai tanpa batasan dapat menimbulkan gangguan perkembangan anak, salah satunya yang disebut dengan distorsi dimensi.
“Anak yang sejak kecil diberi HP bisa mengalami gangguan. Di HP melihat gajah sama dengan semut, ukuran besar-kecil jadi kabur. Itu dampaknya bisa sampai dia dewasa,” kata Heru.
Isu ini bukan sekadar kekhawatiran pribadi, melainkan sudah menjadi kajian internasional. Dia mengaku di beberapa negara maju mulai mengambil langkah tegas terkait kebiasaan tersebut.
“Norwegia sebagai negara digital pertama, kini sudah membatasi penggunaan HP. Kemudian di Swedia, anak SD dan TK kembali dibiasakan menulis. Karena motoriknya lebih berkembang dibandingkan anak yang hanya memakai HP,” jelasnya.
Fenomena ini semakin memprihatinkan karena dampak gawai tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga perilaku. Anak menjadi mudah tantrum, bergantung pada gawai, dan kehilangan kemampuan bersosialisasi.
“Kalau tidak diberi HP, nangis terus. Itu sudah sering terjadi sekarang. Dan ini bukan hanya cerita, tapi ada jurnal penelitian yang membuktikan,” jelasnya.
Selain gawai, demi kesehatan masyarakat dan generasi penerus, Heru juga menyoroti kebiasaan buruk lainnya seperti gaya hidup anak yang kini banyak bergantung pada makanan instan. Pola asuh yang serbapraktis dikhawatirkan memperparah kualitas generasi mendatang.
“Anak jangan dibiasakan jajan makanan instan. Seperti sosis, nuget, dan olahan instan lainya. Lebih baik dimasakkan sendiri agar sehat. Jadi, anak didorong untuk sehat, bukan didorong dengan HP,” pesannya.
Isu kesehatan anak akibat gawai dan makanan instan ini dinilai menjadi tantangan baru bagi orang tua Indonesia.
Jika tidak segera disadari, hal ini dinilai akan berdampak buruk bagi kesehatan generasi penerus di masa mendatang.
“Kalau sejak kecil sudah bergantung pada HP, motorik lemah, emosinya rapuh, maka masa depan bangsa ikut terancam,” tutupnya. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah