TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran barbershop modern ber-AC dan penuh ornamen Instagramable, masih ada satu pemandangan klasik yang bertahan di Tulungagung tukang cukur pinggir jalan.
Mereka biasanya mangkal di emperan pasar tradisional Tulungagung, bawah pohon rindang, atau di lapak kecil berdinding terpal.
Tempatnya sederhana, bahkan kadang cuma kursi lipat dan cermin seadanya. Tapi jangan salah hasilnya? Bikin kamu tampil “cepmek” alias cepak mekar, gaya rambut kekinian anak muda kampung di Tulungagung.
Cepat dan hemat, tapi tetap keren salah satu keunggulan pangkas rambut jalanan ini adalah kecepatannya.
Cukup duduk, sebut model rambut yang diinginkan (biasanya cukup bilang “model sekarang ya, Pak”), dalam 10-15 menit kepala sudah rapi.
Harga? Mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000 saja. Jauh dari tarif barbershop modern yang bisa tiga kali lipatnya.
Meski alatnya sederhana gunting tua, mesin cukur klasik, dan sisir plastik warisan tahun lalu para tukang cukur ini justru punya pengalaman puluhan tahun.
Mereka tahu betul bentuk kepala tiap pelanggan, bahkan tanpa perlu konsultasi panjang.
Gaya "cepmek" yang dipopulerkan anak-anak muda, terutama yang sering nongkrong di warkop atau main futsal, kini bisa didapatkan di tempat pangkas yang jauh dari kata mewah.
Justru di situlah pesonanya. Ada unsur kesederhanaan, kedekatan sosial, dan nostalgia masa kecil yang bikin tempat ini spesial.
Tak sedikit yang sengaja datang ke tukang cukur langganan bapaknya dulu.
Secara visual, tempat cukur pinggir jalan ini menawarkan warna lokal yang kuat: kaca tergantung di pohon, sapu lidi bekas potongan rambut, dan obrolan santai antar pelanggan yang duduk mengantre sambil ngopi.
Suasana ini sulit ditemui di tempat lain, dan justru jadi daya tarik tersendiri di media sosial.
Gaya rambut cepmek dari tukang cukur jalanan di Tulungagung bukan sekadar potongan rambut.
Ia adalah bagian dari identitas lokal tentang gaya, tentang hemat, dan tentang tetap tampil keren tanpa harus mahal. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana