TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, bukan kafe modern atau mall yang jadi pusat cerita kehidupan tapi sebuah warung kopi sederhana di pinggir sawah.
Atap seng, meja kayu yang mulai lapuk, dan termos kopi yang tak pernah kosong jadi saksi bisu obrolan-obrolan di Tulungagung paling jujur yang tak mungkin kau temukan di berita televisi.
Warung kopi di Tulungagung ini bukan sekadar tempat ngopi.
Di sinilah para petani melepas penat setelah bergelut dengan lumpur, ojol menunggu orderan sambil bercanda, dan warga sekitar saling tukar cerita tanpa takut dihakimi.
Kadang serius, kadang konyol, tapi selalu nyata. Mulai dari bahas harga pupuk, sampai curhatan soal anaknya yang naksir temen sekelas.
Uniknya, warung ini seperti punya “auranya” sendiri.
Siapa pun yang duduk, entah kenal atau tidak, bisa langsung nyambung.
Bahkan masalah rumah tangga, keluh kesah soal ekonomi, sampai gosip tetangga sering tumpah ruah di sini.
Tapi anehnya, semua tetap saling menghargai. Mungkin karena di warung ini, tak ada jabatan, tak ada kasta semua sama-sama manusia.
Tempat sederhana ini mengingatkan bahwa kejujuran, kehangatan, dan solidaritas kadang justru tumbuh subur di tempat yang paling tak terduga.
Bukan di ruang seminar, bukan di layar ponsel tapi di meja bambu beralas plastik, ditemani kopi hitam dan angin sawah yang semilir.
Mungkin, kita semua butuh lebih banyak warung kopi pinggir sawah dalam hidup ini tempat kita bisa benar-benar jadi diri sendiri. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana