TULUNGAGUNG - Di sudut kampung Tulungagung, menjelang sore hari, ada satu pemandangan yang nyaris jadi “ritual wajib” suara sinetron dari TV tabung, aroma bawang merah yang baru dikupas, dan tawa lepas emak-emak yang sibuk bergosip sambil sesekali komentar pedas ke karakter sinetron.
Sinetron bukan sekadar hiburan. Bagi ibu-ibu kampung di Tulungagung, ini adalah momen me time yang tetap produktif.
Sambil duduk di teras atau dapur, tangan emak-emak di Tulungagung lincah mengupas bawang, merajang cabai, atau mencuci sayur.
Tapi mata tetap awas ke layar TV apalagi kalau tokoh favoritnya lagi ditindas mertua galak.
“Walah, Rahel ki kok yo gelem-gelem ae disakiti!” komentar seorang ibu, sambil sesekali menyela: “Eh, itu bawange jangan dibuang semua, ya.”
Yang menarik, nonton sinetron sore bukan kegiatan individual. Ini adalah momen “nobar mini” antar tetangga.
Kadang bawa bawang sendiri dari rumah masing-masing, kadang juga sambil titip masak di kompor ibu lain. Tidak ada jadwal resmi, tapi semua tahu: jam 4 sore, kumpul!
Di sela-sela drama rumah tangga layar kaca, muncul drama kampung versi nyata mulai dari cerita anak yang belum pulang, suami yang minta dibikinin kopi, sampai gosip soal warga baru. Semua dibahas, semua ditertawakan.
Kebiasaan ini mungkin tampak sederhana, tapi justru di sanalah letak kehangatannya. Ada solidaritas, tawa, dan suasana rumah yang tidak bisa digantikan gadget.
Di tengah dunia yang makin sibuk, ibu-ibu Tulungagung membuktikan bahwa multitasking bukan sekadar tren tapi sudah jadi gaya hidup sejak lama.
Visualnya sangat relate dan kocak. Bayangkan sketsa video emak-emak ngupas bawang sambil teriak ke TV, “Lapor polisi, Mbak! Jangan cuma nangis!” lalu lanjut ngobrol, “Eh, sambel buat sore udah siap belum?”
Cocok jadi konten sketsa yang menyentuh sekaligus menghibur. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana