TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, pagi hari bukan hanya tentang aroma kopi atau suara ayam berkokok.
Ada satu tradisi di Tulungagung yang masih bertahan dan justru makin digemari memelihara burung kicau di teras rumah.
Dari murai batu, cucak ijo, hingga lovebird, suara merdu burung-burung ini jadi soundtrack khas kampung di Tulungagung yang menenangkan sekaligus menggugah.
Setiap pagi, para pemilik burung akan menggantung sangkarnya di depan rumah.
Sambil menyapu halaman atau duduk santai, mereka menikmati nyanyian burung peliharaan yang sudah dirawat penuh cinta.
Tak jarang, tetangga yang juga penghobi akan mampir, lalu dimulailah obrolan ringan soal jenis voer, teknik pemasteran, hingga kualitas kicau burung masing-masing.
Uniknya, hobi ini bukan sekadar soal hewan peliharaan. Ada semacam “adu gengsi” yang halus terselip di balik suara nyaring sang burung.
Siapa yang paling gacor, siapa yang paling lincah, jadi pembicaraan tersendiri.
Bahkan kadang muncul turnamen kecil antar tetangga, cukup dengan menggantung sangkar di satu deret, lalu menilai mana yang paling rajin berkicau.
Lebih dari sekadar hobi, budaya burung kicau di Tulungagung menyimpan nilai sosial.
Ia menyatukan orang-orang dari berbagai usia, mempererat obrolan lintas generasi, dan memberi warna tersendiri bagi kehidupan kampung.
Tak heran jika visual deretan sangkar burung di depan rumah, ditambah suara riang burung yang bersahutan, kerap jadi momen estetik yang viral di media sosial.
Karena di Tulungagung, suara burung bukan cuma hiburan ia adalah identitas.
Sebuah gaya hidup kampung yang sederhana, penuh ketelatenan, dan tak pernah kehilangan pesonanya. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana