RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak kampung di Tulungagung, syukuran bukan sekadar soal makan-makan.
Ada satu tradisi di Tulungagung yang masih lestari dan sarat makna: mengirim nasi berkat bukan dengan plastik atau kotak styrofoam, melainkan memakai tampah besar yang ditutup kain batik.
Bayangkan sebuah tampah anyaman bambu berisi nasi, sayur lodeh khas Tulungagung, ayam kampung goreng, dan tahu tempe bacem, semuanya tertata rapi dan ditutup kain batik bermotif klasik.
Begitu tiba di rumah tetangga, sang penerima membuka kain itu seperti membuka hadiah, aroma hangat makanan langsung menyapa. Rasanya, syukuran jadi terasa lebih sakral dan penuh rasa hormat.
Tradisi ini biasanya dilakukan saat acara selamatan, khitanan, atau kenduri.
Pengirim membawa sendiri tampahnya, lalu setelah disantap, tampah dikembalikan lengkap dengan isian balasan.
Orang-orang menyebutnya dengan istilah “balik tampah”, yang menjadi simbol saling memberi dan mempererat silaturahmi antarwarga.
Uniknya, kain batik yang digunakan pun bukan sembarang kain.
Biasanya batik yang sudah lama tapi penuh kenangan, misalnya bekas jarik ibu atau kain bekas seserahan.
Jadi selain fungsional, kain itu juga menyimpan nilai sentimental.
Di tengah tren gaya hidup ramah lingkungan, tradisi ini justru semakin relevan.
Tanpa plastik sekali pakai, tanpa limbah makanan, dan sepenuhnya bisa dipakai ulang.
Tradisi kirim nasi pakai tampah dan kain batik bukan cuma warisan masa lalu ia adalah contoh hidup bagaimana budaya lokal bisa sejalan dengan nilai-nilai modern estetika, keberlanjutan, dan rasa kebersamaan. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana