RADAR TULUNGAGUNG - Di era smartphone dan streaming pribadi, siapa sangka tradisi nonton TV rame-rame di rumah tetangga masih bertahan di beberapa kampung Tulungagung?
Suasana sederhana tapi hangat ini jadi hiburan kolektif yang langka dan menyimpan cerita kebersamaan yang tidak tergantikan di Tulungagung.
Biasanya, rumah di Tulungagung yang punya televisi paling besar (atau sound paling mantap) akan jadi "bioskop kampung" dadakan.
Saat sinetron hits, pertandingan bola besar, atau acara dangdut live di TV, warga dari anak-anak sampai bapak-bapak mulai berdatangan.
Kadang duduk di tikar, kadang cukup selonjoran di lantai semen. Yang bawa camilan, tinggal disodorin bareng. Krupuk, mendoan, hingga kopi sachet ikut meramaikan.
Yang membuat tradisi ini unik bukan hanya karena kebersamaannya, tapi juga komentar spontan yang muncul selama acara berlangsung.
Mulai dari bapak-bapak yang jadi komentator bola dadakan, sampai ibu-ibu yang menebak alur sinetron lebih cepat dari naskahnya.
Tawa, celetukan, bahkan debat kecil justru memperkuat rasa guyub.
Bagi anak-anak, momen ini juga jadi waktu bermain dan mengenal tetangga.
Bagi orang tua, ini adalah ruang sosial yang penting tanpa harus pergi jauh atau beli kuota.
Di tengah laju modernisasi, tradisi nonton TV bareng ini seperti pengingat bahwa hiburan tak harus mewah.
Kadang, cukup layar 21 inci, sedikit camilan, dan tawa bersama.
Siapa tahu, konten sederhana seperti ini bisa viral karena hangatnya terasa nyata, dan semua orang rindu kebersamaan yang sesungguhnya. (*)
Editor : Dharaka R. Perdana