RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, datangnya musim hujan bukan hanya membawa aroma tanah basah, tapi juga “serbuan” laron yang memenuhi udara di malam hari.
Serangga bersayap ini biasanya keluar berbondong-bondong setelah hujan sore, tertarik oleh cahaya lampu rumah.
Bagi sebagian orang, laron dianggap hama yang bikin repot sayapnya bertebaran di lantai, meninggalkan jejak lengket yang sulit dibersihkan.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Tubuh, Cegah Masuk Angin di Musim Hujan
Namun, di sisi lain, ada tradisi unik yang justru menanti momen ini. Warga desa, terutama anak-anak, sengaja menyalakan lampu terang di teras atau halaman untuk memancing laron datang.
Begitu terkumpul banyak, mereka pun menangkapnya, memisahkan sayapnya, lalu mengolahnya menjadi camilan gurih yang konon kaya protein.
Laron goreng dengan sedikit taburan garam menjadi hidangan sederhana yang hanya bisa dinikmati setahun sekali.
Baca Juga: Hangatnya Rasa Rumahan: 10 Jajanan Tradisional Jawa Timur Paling Nikmat Saat Musim Hujan
Tak hanya itu, laron juga punya “peran” di dunia cerita rakyat. Di malam-malam penuh cahaya dan kepakan sayapnya, orang tua sering bercerita kisah-kisah misteri untuk menakuti anak-anak agar cepat tidur.
Mulai dari hantu yang suka memakan laron, sampai makhluk halus yang muncul bersamaan dengan serangga ini.
Baca Juga: Musim Hujan di Tulungagung Antara Nostalgia dan Aroma Tanah Basah
Bagi warga Tulungagung, laron musim hujan bukan sekadar serangga. Ia adalah pengingat masa kecil, aroma gorengan hangat di dapur, dan obrolan ringan di bawah cahaya lampu yang dikerumuni sayap-sayap rapuh.
Editor : Dharaka R. Perdana