RADAR TULUNGAGUNG - Di empat penjuru Kota Tulungagung, berdiri gagah patung-patung yang dikenal sebagai Retjo Pentung.
Patung-patung ini bukan hanya sekadar ornamen kota Tulungagung, tetapi juga menyimpan sejarah dan makna simbolis yang mendalam.
Patung Retjo Pentung, atau dalam istilah sejarah disebut Dwarapala, adalah arca penjaga yang ditempatkan di pintu masuk utama kota. Mereka berfungsi sebagai pelindung, menjaga agar energi negatif tidak memasuki wilayah kota.
Sejarah mencatat bahwa patung-patung ini mulai dibangun pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1901. Pembangunannya bertepatan dengan perpindahan ibu kota Kabupaten Ngrowo ke Tulungagung.
Keberadaan patung-patung ini menandai batas wilayah kota dan sekaligus menjadi simbol identitas daerah.
Baca Juga: Tak Terduga, Denny Darko Ternyata Cucu Bos Rokok Retjo Pentung Asal Tulungagung
Secara fisik, patung Retjo Pentung digambarkan sebagai sosok raksasa yang duduk dengan memegang gada.
Posisi duduknya bertumpu pada salah satu kaki, mencerminkan kekuatan dan kewibawaan. Meskipun tampak seram, patung ini memiliki tujuan mulia sebagai penjaga kota.
Retjo Pentung diletakkan secara berpasangan di empat pintu masuk utama Kota Tulungagung—di utara (Jalan Pahlawan, Kedungwaru), timur (Kelurahan Jepun), selatan (batas Desa Beji—Kecamatan Boyolangu, Kelurahan Tamanan), dan barat (dekat Jembatan Lembupeteng).
Baca Juga: Candi Sanggrahan di Tulungagung Kebanjiran, Sang Juru Pelihara Beberkan Fakta Mengejutkan
Setiap pasang patung ditempatkan di pintu masuk utama dari masing-masing arah. Penempatan ini memiliki makna filosofis sebagai penjaga dari segala penjuru.
Dalam tradisi Jawa, angka empat memiliki makna penting. Empat penjuru mata angin dianggap sebagai simbol keseimbangan dan kesempurnaan.
Dengan menempatkan patung di empat arah, diharapkan kota senantiasa dalam keadaan seimbang dan terlindungi.
Selain sebagai penjaga fisik, patung Retjo Pentung juga berfungsi sebagai simbol tolak bala. Masyarakat percaya bahwa keberadaan patung ini dapat mengusir roh jahat dan energi negatif yang dapat mengganggu ketentraman kota.
Nama "Retjo Pentung" sendiri memiliki kaitan erat dengan sejarah lokal. Pada era 1970-an, nama tersebut digunakan sebagai merek rokok yang cukup terkenal di Indonesia. Hal ini semakin mengukuhkan identitas patung-patung ini dalam budaya masyarakat Tulungagung.
Pada tahun 2021, delapan patung Retjo Pentung yang tersebar di empat penjuru kota resmi ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah daerah. Penetapan ini menunjukkan pentingnya pelestarian warisan budaya dan sejarah kota.
Baca Juga: Candi Prambanan Yogyakarta Miliki Pesona Alami saat Malam Hari: Seindah Lukisan Alam
Namun, meskipun telah ditetapkan sebagai cagar budaya, patung-patung ini menghadapi tantangan dalam pelestariannya.
Beberapa patung mengalami kerusakan, terutama yang terbuat dari batu kapur, akibat paparan cuaca ekstrem. Kerusakan ini bukan disebabkan oleh vandalisme, melainkan oleh faktor alamiah.
Untuk menjaga kelestariannya, pemerintah setempat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan perawatan dan restorasi patung-patung tersebut.
Upaya ini bertujuan agar patung Retjo Pentung tetap menjadi simbol kebanggaan dan identitas Kota Tulungagung.
Baca Juga: Warisan Arkeologis Candi Dadi Tulungagung, Jejak Sejarah di Atas Perbukitan
Selain itu, patung-patung ini juga menjadi daya tarik wisata budaya. Wisatawan yang berkunjung ke Tulungagung dapat menikmati keindahan arsitektur dan sejarah yang terkandung dalam setiap patung.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
Patung Retjo Pentung bukan hanya sekadar arca penjaga kota, tetapi juga simbol dari perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Tulungagung.
Baca Juga: Mengenal Candi Gayatri di Boyolangu Tulungagung: Jejak Sejarah Kerajaan Majapahit
Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur untuk generasi mendatang.
Dengan memahami sejarah dan makna simbolis di balik patung-patung ini, kita dapat lebih menghargai dan mencintai budaya lokal.
Patung Retjo Pentung adalah contoh nyata bagaimana seni dan budaya dapat menjadi penjaga identitas dan keharmonisan suatu daerah.
Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat warisan budaya ini.
Dengan demikian, patung Retjo Pentung akan terus berdiri tegak sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Kota Tulungagung.
Baca Juga: Misteri Pesugihan Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, Ada Kaitan Retjo Sewu?
Melalui pelestarian patung-patung ini, kita juga turut serta dalam melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Patung Retjo Pentung adalah simbol dari kekuatan, kewibawaan, dan kebersamaan masyarakat Tulungagung.
Keberadaan patung-patung ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Dengan menjaga keseimbangan tersebut, kita dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan sejahtera.
Patung Retjo Pentung adalah bukti nyata bahwa sejarah dan budaya memiliki peran penting dalam membentuk identitas suatu daerah.
Melalui pemahaman dan penghargaan terhadap warisan budaya, kita dapat mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Sebagai penutup, patung Retjo Pentung bukan hanya sekadar arca penjaga kota, tetapi juga simbol dari perjalanan panjang sejarah dan budaya masyarakat Tulungagung.
Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur untuk generasi mendatang. ****
Editor : Dharaka R. Perdana