Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Di Tulungagung, Rejoagung Culture Carnival 2025: Dipadati Ribuan Warga, Hidupkan Kembali Semangat Sejarah dan Budaya Mataraman

Rinto Wahyu Hidayat • Selasa, 2 September 2025 | 01:08 WIB

 

Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, menjadi pusat perhatian dengan gelaran Rejoagung Culture Carnival 2025, pada Minggu (31/8/2025).
Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, menjadi pusat perhatian dengan gelaran Rejoagung Culture Carnival 2025, pada Minggu (31/8/2025).

 

TULUNGAGUNG – Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, menjadi pusat perhatian dengan gelaran Rejoagung Culture Carnival 2025, pada Minggu (31/8/2025).

Karnaval budaya yang menarik di Tulungagung ini menjadi puncak rangkaian peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia yang diselenggarakan pemerintah desa (pemdes) setempat bersama masyarakat.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya berupa pawai umum, tahun ini karnaval mengangkat tema “Sejarah dan Budaya Mataraman”. Tujuannya sederhana namun sarat makna. Yakni menumbuhkan kembali semangat generasi muda untuk mengenal akar sejarah di Tulungagung, sekaligus membangkitkan etika sopan santun yang kian memudar.

“Kalau dulu anak-anak muda ketika lewat pasti bilang ‘permisi pak, derek langkung’. Nilai etika semacam ini yang ingin kita hidupkan kembali lewat karnaval budaya,” ujar Kepala Desa Rejoagung, Mukaji.

Rute karnaval sejauh lima kilometer itu dipadati ribuan peserta. Mulai dari anak-anak PAUD, pelajar SD, hingga warga dewasa dari enam RW se-Desa Rejoagung ikut serta. Bahkan dalam satu RT saja, jumlah peserta bisa mencapai 200 orang.

Photo
Photo

Kemeriahan terlihat dari berbagai penampilan bernuansa sejarah dan budaya. Ada barisan pelajar dengan pakaian tradisional, kelompok ibu-ibu senam, hingga pemuda karang taruna yang menampilkan kreativitas khas lokal.

“Antusias warga luar biasa, dari yang kecil sampai yang tua semua turun ke jalan,” kata Sukaji dengan penuh syukur.

Kegiatan ini bukan hanya digagas oleh pemerintah desa, tetapi sepenuhnya digerakkan oleh generasi muda. Karang taruna, forum anak desa, hingga perwakilan RT dan RW bergotong royong dalam kepanitiaan.

Pemdes hanya berperan sebagai penyusun konsep, sementara eksekusinya ditangani anak-anak muda.

Itu bukti nyata semangat gotong royong belum luntur. "Anak muda kreatif dan inovatif kita libatkan sejak perencanaan, agar mereka merasa memiliki desa,” jelas Ketua PHBN Desa Rejoagung, Eka Dwi Afriadi.

Tak hanya warga, jajaran Forkopimcam Kedungwaru, tokoh masyarakat, seluruh elemen desa, serta guru-guru sekolah dasar juga hadir memberikan dukungan.

Photo
Photo

Guru SDN 1 Rejoagung, Diana dan Sulis menilai karnaval budaya ini patut dilanjutkan. “Anak-anak sangat antusias, guru-guru juga semangat. Semoga tahun depan bisa lebih besar, lebih kompak, dan lebih rukun lagi,” ungkap keduanya.

Kepala Desa Mukaji berharap karnaval ini bukan hanya sebatas hiburan tahunan, melainkan momentum membangkitkan kesadaran sosial. Dengan menumbuhkan rasa memiliki desa, masyarakat diharapkan lebih peduli pada lingkungan dan menjaga kebersihan tanpa harus diperintah.

“Kalau ada sampah, langsung dibersihkan. Kalau ada saluran drainase tersumbat, langsung diatasi. Dengan begitu, masyarakat sadar bahwa desa ini milik kita bersama,” tegasnya.

Kehadiran ribuan warga menjadi simbol kebangkitan nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap warisan budaya leluhur. Peringatan HUT RI ke-80 di Desa Rejoagung pun bukan sekadar seremoni, tetapi bukti nyata persatuan warga dalam menjaga sejarah dan membangun masa depan.

“Terima kasih kepada seluruh panitia, lembaga desa, dan masyarakat yang telah mendukung dengan sukarela. Rejoagung Culture Carnival 2025 adalah bukti kita bisa kuat kalau bersama-sama,” pungkasnya. (rin/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #desa rejoagung