Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Inilah Lagu Kulon Kutha Tulungagung yang Sarat Makna, Nostalgia, dan Sejarah, Bisakah Menjadi Jadi Lagu Identitas Kota Marmer?

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Kamis, 4 September 2025 | 17:35 WIB

parade seniman reog kendang tulungagung
parade seniman reog kendang tulungagung

RADAR TULUNGAGUNG – Lagu khas “Kulon Kutha” semakin populer di kalangan masyarakat Tulungagung.

Bukan sekadar hiburan, lagu ini dianggap memiliki kedalaman makna yang mencerminkan identitas budaya, suasana kota, dan kehidupan masyarakat setempat.

Banyak warga menganggap “Kulon Kutha” sebagai lagu khas Tulungagung yang mampu menghadirkan nostalgia, terutama bagi mereka yang merantau jauh dari kampung halaman.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Lagu J-Pop 2025 yang Sedang Viral dan Enak Didengar, Wajib Masuk Playlist!

Lagu khas ini kerap diputar dalam berbagai acara kesenian reog kendang,jaranan, hajatan, hingga festival budaya.

Bahkan, sejumlah komunitas musik dan seniman lokal menjadikannya sebagai simbol kebanggaan daerah.

Dalam konteks seni tradisi, “Kulon Kutha” membuktikan bahwa Tulungagung memiliki kekayaan musikal yang layak diangkat ke pentas nasional.

Keunikan melodi serta lirik yang sederhana namun penuh makna membuat lagu khas ini mudah diterima lintas generasi.

Baca Juga: Dukuh Culture Carnival 2025, Warga Desa Dukuh di Tulungagung Rayakan HUT RI ke-80 dengan Pawai Budaya

Menurut keterangan sejumlah budayawan, lagu khas “Kulon Kutha” tidak hanya menghibur, melainkan juga menjadi pengingat akan nilai-nilai sosial dan kebersamaan warga Tulungagung.

Bahkan, dalam penggalan liriknya terdapat ungkapan “mbiyen karan Ngrowo, saiki dadi kutha” yang sedikit banyak menceritakan asal-usul Tulungagung.

Lirik ini menggambarkan transformasi wilayah Ngrowo, nama lama Tulungagung yang kini berkembang menjadi sebuah kota.

Lagu “Kulon Kutha” muncul dari tradisi musik rakyat yang berkembang di wilayah Tulungagung sejak puluhan tahun silam.

Meskipun tidak ada catatan resmi mengenai pencipta pertama lagu ini, masyarakat percaya bahwa lagu tersebut diciptakan dari pengalaman keseharian warga kota yang tinggal di kawasan barat (kulon) Tulungagung.

Menariknya, syair lagu juga menyelipkan narasi sejarah lokal, termasuk penyebutan Ngrowo sebagai identitas lama Tulungagung.

Hal ini menjadi bukti bahwa lagu khas “Kulon Kutha” bukan hanya karya seni, tetapi juga media lisan yang menyimpan cerita perubahan sosial, budaya, dan geografi daerah.

Baca Juga: Di Tulungagung, Rejoagung Culture Carnival 2025: Dipadati Ribuan Warga, Hidupkan Kembali Semangat Sejarah dan Budaya Mataraman

Salah satu alasan mengapa “Kulon Kutha” dianggap sebagai lagu khas Tulungagung adalah kemampuannya menyentuh sisi emosional.

Bagi sebagian besar orang, mendengarkan lagu ini mampu membangkitkan kenangan masa kecil, suasana desa, hingga interaksi sederhana antarwarga.

Tidak sedikit perantau yang mengaku rindu kampung halaman setiap kali mendengar lagu ini dinyanyikan.

Lirik tentang Ngrowo menambah daya tarik tersendiri karena mengaitkan lagu ini dengan akar sejarah daerah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebuah lagu rakyat bisa menjadi identitas daerah, sekaligus pengingat akan perjalanan panjang suatu kota.

Seniman-seniman Tulungagung berperan penting dalam menjaga keberlangsungan lagu “Kulon Kutha”.

Mereka kerap menyanyikan ulang dalam berbagai pertunjukan musik daerah, baik di tingkat desa maupun kota.

Bahkan, beberapa grup musik modern juga membuat aransemen ulang dengan nuansa kontemporer agar lebih mudah diterima generasi muda.

Salah satu seniman lokal menyebutkan bahwa “Kulon Kutha” adalah “roh budaya” masyarakat Tulungagung. Menurutnya, tanpa lagu khas ini, kesenian daerah akan terasa kurang lengkap.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga ikut mendorong pelestarian lagu khas ini. Melalui Disbudpar, pemerintah sering memasukkan “Kulon Kutha” ke dalam agenda festival budaya, lomba nyanyi daerah, serta program kesenian sekolah.

Tujuannya agar generasi muda mengenal sekaligus mencintai warisan budaya lokal.

Baca Juga: Dinas Pendidikan Tulungagung Gelar Semarak Kemerdekaan, Simak Kemeriahannya

Selain itu, ada wacana untuk menjadikan “Kulon Kutha” sebagai salah satu identitas branding pariwisata Tulungagung.

Hal ini dianggap penting mengingat pariwisata tidak hanya soal tempat indah, tetapi juga kekayaan budaya yang dimiliki daerah.

Jika ditelusuri lebih dalam, fenomena “Kulon Kutha” sejalan dengan tren global yang menekankan pentingnya identitas lokal.

Di era digital, lagu-lagu khas daerah justru semakin relevan karena mampu menjadi pembeda sekaligus daya tarik wisata.

Di Tulungagung sendiri, lagu khas ini sering dipadukan dengan kesenian tradisional lain seperti jaranan, reog kendang, hingga hadrah.

Kombinasi tersebut memperkaya khazanah budaya daerah sekaligus memperkuat posisi Tulungagung di peta kesenian Jawa Timur.

Banyak warga mengaku bahwa saat lagu “Kulon Kutha” dinyanyikan bersama, ada rasa kebersamaan yang kuat.

Tidak peduli apakah dinyanyikan di panggung besar atau sekadar dalam acara keluarga, lagu khas ini selalu membawa suasana hangat.

Inilah mengapa “Kulon Kutha” dianggap lebih dari sekadar lagu hiburan. Ia menjadi bagian dari kehidupan sosial, perekat antargenerasi, serta pengingat identitas sebagai orang Tulungagung.

Ke depan, harapannya lagu khas “Kulon Kutha” dapat terus diajarkan, dibawakan, dan dipopulerkan. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal musik modern, tetapi juga bangga menyanyikan lagu daerah sendiri.

Dengan dukungan pemerintah, seniman, dan masyarakat, “Kulon Kutha” diyakini akan tetap hidup dan menjadi simbol budaya Tulungagung. Lagu ini adalah bukti bahwa warisan lokal selalu memiliki tempat istimewa di hati warganya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#ngrowo #tulungagung #kulon kutha #identitas budaya