Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Karnaval Desa di Tulungagung Jadi Ajang Kreativitas Warga, dari Sampah Jadi Kostum Mempesona

Yoga Dany Damara • Minggu, 7 September 2025 | 13:00 WIB

Karnaval ini pun bukan sekadar hiburan tahunan ia menjadi simbol bahwa dengan gotong royong dan kreativitas
Karnaval ini pun bukan sekadar hiburan tahunan ia menjadi simbol bahwa dengan gotong royong dan kreativitas

RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak tempat, karnaval identik dengan kostum mewah yang dijahit dari kain mahal dan dilengkapi aksesori berkilau.

Tapi di sebuah desa di Tulungagung, cerita itu sedikit berbeda. Karnaval justru menjadi panggung kreativitas warga untuk menyulap barang bekas menjadi busana unik nan memukau.

Hasilnya? Perpaduan antara seni, pesan lingkungan, dan kegembiraan khas kampung yang sulit ditandingi.

Baca Juga: Tulungagung Ramai Agenda Karnaval Agustusan, Ike Novilia Kebanjiran Pesanan Kostum, Begini Perjuangannya

Persiapan karnaval dimulai berminggu-minggu sebelumnya. Warga mengumpulkan barang-barang yang biasanya hanya berakhir di tempat pembuangan: botol plastik, karung beras, koran bekas, bungkus kopi, bahkan kepingan CD lama.

Semua ini dikumpulkan di balai desa, lalu diubah bersama-sama menjadi kostum. Prosesnya mirip “dapur seni” yang riuh anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, semua punya peran.

Botol plastik dipotong dan dirangkai menjadi sayap kupu-kupu raksasa. Karung goni dicat warna-warni, lalu dijahit menjadi jubah ala prajurit.

Baca Juga: 7 Makanan Kreatif Anak Kos di Tulungagung Saat Budget Menipis, Tetap Enak dan Bikin Kenyang!

Bungkus kopi yang mengilap dilipat-lipat menjadi bunga hias. Tidak ada bahan yang terlalu sepele untuk dijadikan karya.

Prinsipnya sederhana semua yang dianggap sampah, bisa punya kehidupan baru jika disentuh dengan kreativitas.

Begitu hari karnaval tiba, suasana desa seolah berubah total. Jalan utama dipenuhi penonton dari berbagai penjuru, dari anak-anak sampai kakek-nenek yang rela berdiri di bawah terik matahari.

Baca Juga: Cerita Nanda Reza Andika, Pemuda Asal Tulungagung Bertahan di Industri Kreatif hinggga Tembus Pasar Internasional 

Musik gamelan dan dangdut berpadu, menciptakan irama yang membuat semua orang bergoyang.

Satu per satu peserta mulai berjalan di “catwalk” jalan desa. Ada anak kecil yang kostumnya terbuat dari ratusan sedotan bekas, ada ibu-ibu yang mengenakan gaun panjang dari potongan kain sisa, dan ada pula kelompok remaja yang memamerkan armor robot dari kardus bekas.

Sorak-sorai penonton pecah setiap kali kostum yang lewat punya kejutan misalnya sayap yang bisa dibuka-tutup, atau hiasan kepala yang berputar karena dihubungkan ke dinamo bekas mainan.

Meski terlihat seperti pesta biasa, karnaval ini menyimpan pesan serius: mengajak warga untuk lebih bijak mengelola sampah.

Kepala desa biasanya memberi sambutan singkat sebelum acara dimulai, mengingatkan bahwa barang bekas tidak selalu harus dibuang.

Baca Juga: Berikut Contoh Doa Malam Tirakatan 17 Agustus dengan Bahasa Jawa

Keceriaan warga hari itu menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan lewat seminar atau spanduk, tapi bisa lewat kreativitas dan hiburan.

Yang membuat karnaval ini istimewa bukan hanya kostumnya, tapi kebersamaan yang tercipta.

Warga dari berbagai latar belakang bekerja sama, tanpa memandang siapa yang punya ide atau siapa yang memegang gunting.

Semua tumpah ruah dalam satu semangat: membuat karnaval tahun ini lebih seru daripada tahun lalu.

Baca Juga: Nostalgia Merdeka! 9 Jajanan Legendaris yang Selalu Ada di Karnaval 17 Agustusan

Di akhir acara, juri memilih pemenang kostum terbaik. Namun di mata warga, semua peserta adalah juara. Mereka telah membuktikan bahwa desa kecil di Tulungagung bisa menghasilkan karya besar dari sesuatu yang sering dianggap tak berguna.

Karnaval ini pun bukan sekadar hiburan tahunan ia menjadi simbol bahwa dengan gotong royong, kreativitas, dan sedikit keberanian untuk berpikir di luar kebiasaan, sebuah desa bisa memberikan inspirasi bagi dunia. Dan yang paling penting, bumi kita pun ikut tersenyum.

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #karnaval #desa #kostum #sampah