Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asy-Syekh Mustaqim bin Husein, Ulama Besar dan Pendiri Pondok PETA Tulungagung yang Jarang Diketahui Publik

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Senin, 8 September 2025 | 05:00 WIB

pondok PETA (pesulukan torekot agung)
pondok PETA (pesulukan torekot agung)

RADAR TULUNGAGUNG - Asy-Syekh Mustaqim bin Husein adalah seorang ulama besar yang namanya sangat dihormati di Tulungagung. Meski begitu, perjalanan hidupnya tidak banyak diketahui secara luas oleh masyarakat.

Dia lahir pada tahun 1901 di Desa Nawangan, Kabupaten Kediri. Namun perjalanan spiritualnya kemudian banyak berlabuh di Tulungagung, yang menjadi saksi utama perjuangannya dalam mendirikan Pondok PETA.

Nama Pondok PETA di Tulungagung sendiri adalah singkatan dari Pesulukan Thoriqot Agung. Pondok ini kini dikenal sebagai pusat ajaran tasawuf dan tarekat yang berpengaruh luas di Indonesia.

Baca Juga: Haul Akbar di Pondok PETA Tulungagung 2025 Berlangsung Khidmat dan Meriah, Ribuan Jamaah Padati Lokasi Sejak Pagi Hari

Sejak kecil, Mustaqim muda sudah menunjukkan minat besar terhadap ilmu agama. Belajar awalnya ia dapatkan dari Kiai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung, yang kelak menjadi titik awal kedekatannya dengan daerah ini.

Pada usia remaja, ia melanjutkan perjalanan mencari ilmu ke pamannya, Syekh Khudlori di Malangbong, Garut.

Dari sana ia mendapatkan ijazah tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah serta berbagai hizib yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Baca Juga: Haul Akbar di Pondok PETA Tulungagung 2025 Berlangsung Khidmat dan Meriah, Ribuan Jamaah Padati Lokasi Sejak Pagi Hari

Setelah pulang dari pengembaraan ilmu, Mustaqim muda menetap kembali di Tulungagung. Ia menikah dengan Nyai Halimatus Sa’diyah pada tahun 1924 dan kemudian tinggal di Kauman.

Pernikahan ini membuatnya semakin berakar di Tulungagung. Dari rumah sederhana di Kauman inilah kemudian lahir sebuah pusat spiritual yang bernama Pondok PETA.

Untuk menghidupi keluarga, Syekh Mustaqim bekerja dengan profesi sederhana. Ia pernah menjadi tukang cukur, tukang jahit sepatu, hingga pedagang kecil di Tulungagung.

Baca Juga: Meski Paling Sempit, Kelurahan di Tulungagung Ini Punya Pondok Berpengaruh, Ada yang Tahu?

Kesederhanaan hidup tidak mengurangi wibawa beliau di mata masyarakat. Justru dengan kehidupan zuhud, ia semakin dicintai dan dihormati banyak orang.

Pada awal 1930-an, murid-murid silat yang ia bina di Tulungagung mulai diarahkan untuk mendalami tasawuf. Dari sinilah pondok Kauman kemudian berkembang menjadi Pondok PETA.

Ajaran yang beliau tekankan selalu berpusat pada keikhlasan. Kalimat “laa maqshuuda illallah, laa ma‘buuda illallah, laa maujuuda illallah” menjadi semboyan utama pengajaran di pondoknya.

Pondok PETA kemudian menjadi pusat tarekat di Tulungagung. Tiga jalur tarekat besar diajarkan di sini, yaitu Syadziliyah, Qodiriyah wan Naqsyabandiyah, dan Naqsyabandiyah.

Tarekat Syadziliyah menjadi salah satu yang paling dominan di Pondok PETA. Banyak murid dan jamaah yang kemudian mengamalkan wirid, hizib, dan dzikir yang diwariskan oleh beliau.

Baca Juga: Ini Keunikan Stasiun Pesantren Kediri, Sebelumnya Melintas di Dekat Simpang Lima Gumul

Selain itu, amalan Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dijalankan secara berjamaah setelah salat lima waktu. Sedangkan tarekat Naqsyabandiyah khusus diajarkan pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Kharisma Syekh Mustaqim di Tulungagung begitu kuat. Banyak masyarakat yang percaya bahwa beliau memiliki karomah, termasuk kemampuan melihat hal-hal gaib dan membaca isi hati orang.

Namun karomah bukanlah hal yang ditonjolkan beliau. Ajaran utamanya tetap berfokus pada keikhlasan, dzikir, dan cinta kepada Allah.

Dalam sejarahnya, Pondok PETA menjadi tuan rumah Muktamar ke-III JATMAN pada tahun 1963. Sejak itulah nama Pondok PETA resmi dikenal secara luas di kalangan tarekat mu’tabarah.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang mencintai tanah air. Hal ini tercermin dari penamaan PETA yang selain bermakna Pesulukan Thoriqot Agung juga berarti Pembela Tanah Air.

Perpaduan nilai spiritual dan nasionalisme ini menjadi ciri khas ajaran beliau di Tulungagung. Santri dididik untuk tidak hanya taat dalam ibadah, tetapi juga peduli terhadap bangsa dan negara.

Baca Juga: Begini Sosok Pemimpin Kota Marmer Seharusnya Menurut Cucu Pendiri Pondok PETA Tulungagung

Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 16 anak. Namun hanya 7 orang anak yang bertahan hidup hingga dewasa, sementara 9 lainnya wafat sejak balita.

Anak-anaknya kemudian ikut melanjutkan perjuangan beliau. Mereka berperan dalam menjaga keberlangsungan Pondok PETA di Tulungagung.

Meski sudah wafat puluhan tahun lalu, ajaran Syekh Mustaqim tetap hidup. Ribuan jamaah tarekat masih terus berdatangan ke Tulungagung untuk mengaji dan berziarah.

Syekh Mustaqim wafat pada 1 Muharram 1970, bertepatan dengan hari Ahad sore setelah salat Ashar. Kabar wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.

Jenazah beliau dimakamkan di area Pondok PETA Tulungagung. Hingga kini, makam beliau menjadi salah satu tujuan utama ziarah bagi para santri dan jamaah tarekat.

Setiap tahun, haul beliau diperingati dengan khidmat. Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati Tulungagung untuk mengenang perjuangan sang ulama.

Haul akbar yang digelar setiap 1 Muharram bahkan menjadi agenda besar keagamaan di Tulungagung. Selain doa bersama, kegiatan sosial dan bazar UMKM juga turut meramaikan acara.

Kehidupan beliau di Tulungagung menunjukkan teladan kesederhanaan. Meski seorang mursyid besar, beliau tetap hidup apa adanya dan dekat dengan masyarakat kecil.

Baca Juga: Patut Dicontoh, Ponpes Panca Hidayah Tulungagung Santuni Anak Yatim dan Kaum Dhuafa di Ramadhan

Banyak tokoh ulama di Indonesia yang pernah berguru langsung atau tidak langsung kepada beliau. Hal ini membuat nama Tulungagung ikut harum sebagai pusat pendidikan spiritual.

Sayangnya, sejarah besar ini belum banyak tercatat secara resmi. Tidak sedikit masyarakat Tulungagung sendiri yang belum mengenal secara rinci sosok Syekh Mustaqim.

Padahal, jasa beliau dalam membangun kehidupan spiritual di Tulungagung sangatlah besar. Kehadirannya menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat tarekat di Nusantara.

Berita ini hadir sebagai upaya untuk mengenalkan kembali sejarah ulama besar dari Tulungagung. Bahwa daerah ini bukan hanya dikenal dengan marmer, melainkan juga dengan tokoh wali quthub.

Baca Juga: Riwayat Ponpes Mambaul Hikam Usai? Begini Pernyataan Kankemenag Trenggalek

Warisan ajaran Syekh Mustaqim masih terjaga di Pondok PETA hingga hari ini. Ribuan jamaah masih setia menjalankan tarekat yang beliau wariskan.

Bagi masyarakat Tulungagung, kisah hidup beliau adalah inspirasi untuk tetap menjaga spiritualitas di tengah modernisasi. Beliau menjadi teladan bagaimana ilmu, keikhlasan, dan perjuangan bisa menyatu dalam kehidupan.

Dengan demikian, nama besar Asy-Syekh Mustaqim bin Husein akan selalu melekat dalam sejarah Tulungagung. Sebuah warisan yang layak untuk terus dijaga dan dikenang oleh generasi mendatang.

Editor : Dharaka R. Perdana
#ulama kharismatik #tulungagung #ponpes #pondok PETA #tarekat #ulama #wali