Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Masyarakat Tulungagung Harus Terlibat Penyelamatan Naskah Kuno, Begini Harapan Bupati Gatut Sunu Wibowo

Dharaka R. Perdana • Rabu, 10 September 2025 | 19:29 WIB

Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dan Sekda Tri Hariadi melihat sejumlah manuskrip kuno yang dipamerkan. (DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dan Sekda Tri Hariadi melihat sejumlah manuskrip kuno yang dipamerkan. (DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Penyelamatan naskah kuno atau manuskrip harus dilakukan seluruh lapisan masyarakat Tulungagung tanpa terkecuali.

Hal ini yang mendasari digelarnya Workshop Identifikasi dan Pendataan Kuno Nusantara Tahun 2025 di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa Tulungagung.

Diharapkan, hal ini bisa memancing masyarakat Tulungagung yang memiliki naskah untuk memunculkannya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinpussip) Tulungagung Lilik Ismiati, mengatakan, keberadaan naskah kuno memang tidak bisa disepelekan begitu saja.

Karena itu menjadi bagian dari upaya untuk mengingat masa-masa lalu. "Bagi masyarakat Tulungagung yang punya naskah bisa diperlihatkan ke publik. Agar bisa mengingat budaya leluhur kita di kabupaten ini," katanya.

Lilik, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa pihaknya pun berniat untuk mengarsipkan manuskrip kuno yang dimiliki masyarakat Tulungagung agar tidak segera hilang.

Budayawan asal Malang Lulut Edy Santoso memberikan buku untuk Bupati Gatut Sunu Wibowo dan Kepala Dinpussip Lilik Ismiati.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Budayawan asal Malang Lulut Edy Santoso memberikan buku untuk Bupati Gatut Sunu Wibowo dan Kepala Dinpussip Lilik Ismiati.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

Makanya, banyak elemen yang dihadirkan di workshop berasal dari beragam latar belakang. Seperti dari unsur pendidikan, camat, pegiat budaya, dan lain sebagainya.

"Banyak undangan yang kami hadirkan agar penyelamatan naskah kuno ini bisa terlaksana," tambahnya.

Selain ada materi dari narasumber, ada juga pameran manuskrip kuno di dalam acara. Bahkan, ada naskah kuno yang berasal dari tahun 1500 Masehi. Tentunya ini merupakan benda berharga yang tidak ternilai harganya.

Baca Juga: Durasi Gerhana Bulan Total di Prasasti Sucen I Capai 5 Jam 11 Menit, Jadi Tontonan Luar Biasa Masyarakat Jawa Kuno,

Sementara itu, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo mengingatkan pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai warisan budaya yang menyimpan jejak sejarah dan pengetahuan lintas generasi.

Dia pun mengaku prihatin lantaran sebagian masyarakat masih menganggap naskah kuno hanya sebagai benda mistis atau sekadar "jimat".

Padahal, naskah tersebut memiliki nilai historis yang sangat penting untuk pembangunan peradaban masa depan.

"Jika semua naskah kuno bisa diidentifikan kita akan menemukan warisan pengetahuan yang sangat berharga. Sayangnya, selama ini naskah kuno kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung dilupakan," ujarnya.

Dia mengungkapkan, saat ini Dinperpusip Tulungagung menyimpan dua naskah kuno berbahan daun lontar yang hingga ini belum teridentifikasi secara menyeluruh.

Hal ini yang menjadi bukti bahwa masih banyak warisan tersembunyi dan berpotensi hilang jika tidak segera dilakukan pendataan serta pelestarian.

"Naskah kuno rentan rusak karena faktor usia, iklim tropis, hingga risiko bencana. Jika tidak segera ditangani secara serius, tentu akan kehilangan jejak sejarah peradaban yang sangat berharga," tegasnya.

Orang nomor satu di Pemkab Tulungagung ini juga menekankan pentingnya alih dia digital sebagai solusi agar isi naskah kuno bisa dipelajari masyarakat tanpa merusak fisik asli.

"Jika masyarakat memiliki atau mengetahui keberadaan naskah kuno, kami berharap segera melapor. Pemerintah siap memberikan penghargaan bagi mereka yang peduli terhadap pelestarian naskah kuno," jelasnya.

Baca Juga: Prasasti Horren: Kontroversi Sejarah Sunda dan Jawa di Tulungagung, dari Era Majapahit atau Airlangga?

Pria asal Desa Gandong, Kecamatan Bandung, ini pun mengajak seluruh peserta workshop dan masyarakat Tulungagung untuk bersatu menjaga naskah kuno sebagai bagian dari identitas budaya.

"Melalui workshop ini, mari kita jadikan pelestarian naskah kuno sebagai gerakan besama. Ini bukan sekadar menjaga benda, tetapi juga menjaga sejarah dan jati diri kita," tandasnya.

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #naskah kuno #manuskrip