RADAR TULUNGAGUNG – Tim Pengabdian kepada Masyarakat yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) melaksanakan program pendampingan untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Pojok, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.
Melalui kegiatan berjudul "Sosialisasi Produk Berbasis Mikroba untuk Mendukung Pertanian Terpadu" yang digelar pada Minggu (13/7/2025), tim UNAIR memperkenalkan inovasi teknologi hayati berbasis mikroba untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian petani setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program besar "Demoplot Pertanian Terpadu Sebagai Wahana Pelatihan Guna Mewujudkan Kemandirian Kelompok Wanita Tani di Desa Pojok, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung” yang akan berjalan selama dua tahun, dari 2025 hingga 2026.
Program ini dirancang menjawab permasalahan yang dihadapi KWT Desa Pojok, di mana usaha pertanian, perikanan, dan peternakan yang mereka jalankan masih bersifat konvensional dan belum terintegrasi.
Ketua tim pengmas UNAIR, Prof Dr Ni'matuzahroh, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan KWT Desa Pojok.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Terpilih, IKA Unair Tulungagung Beri Ucapan Selamat
"Potensi di Desa Pojok ini luar biasa, dengan tiga sektor usaha yang saling berkaitan. Kami hadir untuk memberikan sentuhan teknologi berbasis mikroba agar KWT bisa lebih produktif, efisien, dan mandiri" ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut, tim Pengmas UNAIR memperkenalkan tiga produk inovasi berbasis mikroba, yaitu:
- BioFert: Pupuk hayati untuk meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian.
- BioFeed: Formula mikroba untuk fermentasi pakan ternak, sehingga pakan lebih bernutrisi dan mudah dicerna.
- BioFish: Probiotik untuk budidaya ikan air tawar yang berfungsi memperbaiki kualitas air dan meningkatkan kesehatan ikan.
Bukan hanya agenda sosialisasi semata, acara ini juga diisi dengan sesi praktik langsung yang dipandu Drs. Agus Supriyanto, M.Kes selaku anggota pengmas.
Baca Juga: Tanamkan Mimpi Sejak Dini, Mahasiswa UNAIR Ajak Siswa SD Jatijejer Mojokerto Merancang Masa Depan
Para anggota KWT diajarkan cara memperbanyak formula mikroba secara mandiri. Diharapkan setelah program ini selesai, KWT Desa Pojok tidak hanya mampu mengaplikasikan, tetapi juga memproduksi sendiri kebutuhannya. Bahkan, bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Tulungagung,
"Tujuan utama kami adalah kemandirian. Sehingga kelak bisa memberi contoh bagi desa sekitarnya," tambah Prof. Ni'matuzahroh.
Acara ini turut dihadiri Kabid Penyuluhan Pertanian Dispertan Tulungagung Priyono; Timur, selaku penyuluh pertanian; dan perangkat Desa Pojok.
Dalam sambutannya, Priyono mengapresiasi sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Menurut dia, Pemkab Tulungagung sangat mendukung program seperti ini.
"Inovasi dari Universitas Airlangga yang langsung menyentuh dan memberdayakan perempuan petani adalah langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan daerah," katanya.
Salah satu peserta dari KWT Atmi, mengaku sangat antusias dan senang dengan adanya pelatihan ini. Apalagi sebelumnya dia hanya tahu cara bertani biasa. Sekarang diajarkan membuat pupuk dan pakan sendiri.
"Semoga ke depannya hasil panen, ternak, dan ikan kami bisa lebih meningkat dan menambah pendapatan keluarga," ungkapnya penuh harap.
Program ini akan dilanjutkan dengan, pendampingan intensif, serta evaluasi berkala selama dua tahun ke depan untuk memastikan teknologi dapat terimplementasi dengan baik dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana