RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah maraknya kuliner modern yang makin bervariasi, ada dua makanan tradisional Tulungagung yang kini mulai sulit ditemui tiwul dan gatot.
Dua hidangan sederhana berbahan dasar singkong ini dulunya menjadi makanan pokok masyarakat di pedesaan Tulungagung, namun sekarang perlahan tergeser oleh nasi dan makanan cepat saji.
Baca Juga: Es Durian Kekinian, Cerminan Budaya dan Gaya Hidup Kuliner di Pekanbaru
Tiwul dibuat dari singkong yang diolah menjadi gaplek, lalu ditumbuk hingga menjadi butiran kecil menyerupai nasi.
Rasanya gurih dan sedikit manis alami, sangat cocok dimakan dengan lauk sederhana seperti ikan asin, sambal, atau sayur lodeh.
Dulu, tiwul menjadi pengganti nasi bagi masyarakat karena lebih mudah didapat dan murah. Kini, tiwul lebih sering dianggap makanan nostalgia yang hanya disajikan saat acara tertentu.
Baca Juga: Ayam Lodho Khas Tulungagung, Kuliner Tradisional yang Menggugah Selera, Ini Kunci Kelezatannya
Berbeda dengan tiwul, gatot terbuat dari singkong kering yang sempat mengalami proses fermentasi alami.
Setelah direndam dan dikukus, gatot menghasilkan rasa khas gurih, sedikit asam, dengan tekstur kenyal yang unik.
Biasanya dinikmati dengan parutan kelapa dan taburan gula atau garam. Meski sederhana, gatot punya cita rasa yang membuat banyak orang rindu pada masa kecilnya.
Baca Juga: Menjelajah Rasa Indonesia, Inilah 8 Kuliner Legendaris dari Sabang hingga Merauke
Ada beberapa alasan mengapa tiwul dan gatot makin jarang ditemui. Seperti perubahan gaya hidup yang membuat masyarakat lebih memilih nasi atau makanan instan.
Belum lagi proses pembuatan yang rumit dan butuh waktu panjang untuk mengolah singkong menjadi gaplek atau gatot.
Minimnya generasi penerus: hanya sedikit penjual yang masih bertahan menjual makanan ini.
Meski kini jarang ditemui, tiwul dan gatot sesungguhnya adalah warisan kuliner yang sarat makna.
Makanan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan cerminan perjuangan masyarakat di masa lalu yang hidup sederhana namun penuh kreativitas.
Di Tulungagung, beberapa pasar tradisional atau acara budaya masih menyajikan tiwul dan gatot. Bagi yang pernah merasakannya, tiap suapan bisa jadi nostalgia akan masa kecil di desa. ****
Editor : Dharaka R. Perdana