TULUNGAGUNG - Karnaval Ngunut 2025 yang digelar pada Sabtu (6/9/2025) lalu kembali menjadi magnet budaya bagi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.
Termasuk suguhan paling ditunggu adalah Tarian Janur Kuning Pacitan Ngunut, Tulungagung, tradisi khas yang mampu menghadirkan ribuan peserta lintas generasi.
Tahun ini, penampilan Karnaval Ngunut 2025 semakin istimewa karena istri Deni Wijaya, Dini Yusiana, sekaligus dari pihak sponsor ini, dipercaya menjadi maskot Tarian Janur Kuning yang dipimpin Kasian Kuping.
Kehadirannya sukses menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati jalur karnaval.
Bagi Deni, sapaan akrabnya, keterlibatan sebagai sponsor bukan sekadar dukungan materi, melainkan panggilan hati.
“Saya pribadi sangat merasa bersyukur, karena setiap kali ada event tahunan karnaval di Ngunut, hampir semua usia dan kalangan terpanggil sukarela untuk mengikuti dan merayakan. Jadi, saya juga terpanggil untuk merasakan kesenangan mereka semua, lahir dan batin,” ungkapnya.
Baca Juga: Bupati Tulungagung Lepas Kontingen MTQ XXXI Jatim 2025, Target Bawa Pulang Juara 1
Tarian Janur Kuning memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Gerakannya mengadopsi unsur Dayak, Papua, hingga Sumbawa, yang kemudian diolah menjadi tarian khas Ngunut.
“Maknanya sangat mendalam, yaitu sebagai tarian penyatuan bangsa dan budaya kearifan lokal,” jelasnya.
Keistimewaan lain, tarian ini sudah dikenal sejak masuk ke Pabrik Kunir di Ngunut pada 1968 hingga 1970-an.
Beberapa penari generasi awal yang kini berusia di atas 60 tahun masih ada sebagai saksi hidup.
Meski sempat vakum sekitar tahun 2006, Tarian Janur Kuning kembali eksis sejak 2012 dan terus berkembang hingga kini.
Asal-usul tarian ini dari gagasan almarhum Mbah Sunyoto, dari Pacitan Ngunut, yang kemudian diteruskan oleh Kasian Kuping. Hingga kini, markas besar Janur Kuning di Dusun Pacitan, Desa Ngunut, menjadi pusat latihan dan pengembangan, serta dijaga dengan gotong royong masyarakat.
Peran masyarakat luar biasa, mulai dari menyediakan tempat, air minum, sampai camilan saat latihan. Semua bergantian saling mendukung.
“Terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bapak Kasian Kuping, yang sudah menjaga, melestarikan, dan menjadi pusat pimpinan Janur Kuning sampai sekarang,” tutur Deni.
Kehadiran maskot tahun ini juga membawa suasana berbeda.
“Awalnya saya sangat khawatir, takut istri salah atau canggung karena ini pertama kali tampil menari di depan umum. Tapi setelah melihat acara pecah meriah dan seru, saya justru sangat bersyukur dan bangga,” ujarnya.
Peserta yang ikut pun sangat beragam, mulai dari anak-anak sekolah, masyarakat RT/RW, hingga tokoh desa.
Tahun lalu, kepala desa bahkan ikut menari, meski tahun ini berhalangan hadir karena sakit.
Deni sendiri dikenal sebagai perantau yang kini banyak beraktivitas di Papua, sedangkan sang istri menjalankan usaha kuliner serta jual beli rumah dan tanah di Tulungagung.
Baginya, keterlibatan pengusaha lokal sangat penting.
"Kalau kita tidak mendukung, maka orang lain tidak akan kenal dan peduli dengan budaya lokal kita,” tegasnya.
Dengan jumlah peserta mencapai seribu orang, Tarian Janur Kuning membuktikan bahwa tradisi ini tetap dicintai masyarakat modern.
“Karena tariannya tidak membosankan. Selain berjoget, kita juga bisa bebas berteriak berirama, jadi terasa seperti pelepas penat,” tambahnya.
Deni pun berharap keaslian tradisi tetap terjaga.
“Harapan saya ke depan, masyarakat benar-benar tahu kalau Janur Kuning ini asli dari putra daerah Ngunut. Jangan sampai ditirukan sembarangan oleh pihak luar tanpa pelatih asli, supaya citra dan kualitasnya tidak rusak,” pungkasnya.
Karnaval Ngunut 2025 dengan tema “Ngunut Berbudaya” menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa tetap eksis, meriah, dan membanggakan.
Semua itu berkat gotong royong masyarakat, cinta budaya, serta dukungan penuh dari tokoh dan pengusaha lokal seperti Deni Wijaya.(*)
Editor : Vidya Sajar Fitri