RADAR TULUNGAGUNG - Bagi banyak anak sekolah di Tulungagung, suara khas “teklok-teklok” dari panci pentol di gerobak sederhana sering jadi pertanda bahagia.
Begitu jam istirahat berbunyi, para siswa berlarian keluar kelas hanya untuk antre di depan tukang pentol langganan.
Baca Juga: Kenapa Tukang Bakso Keliling Tulungagung Selalu Lewat Pas Kita Lagi Lapar?
Pentol di Tulungagung bukan sekadar jajanan murah meriah. Ada saus kacang, sambal pedas, sampai kuah hangat yang bikin nagih.
Harganya pun ramah kantong anak sekolah, jadi nggak heran kalau hampir tiap hari mereka bisa jajan tanpa mikir isi dompet.
Baca Juga: Menyelami Lezatnya Macam-Macam Bakso Nusantara
Tapi yang bikin tukang pentol istimewa bukan cuma makanannya. Mereka sering jadi bagian dari kenangan masa kecil.
Ada yang selalu sabar menunggu murid terakhir keluar kelas, ada yang hafal pesanan “pakai banyak saus tapi jangan pedes”, bahkan ada yang suka bercanda biar pembeli kecilnya senyum-senyum sendiri.
Baca Juga: Bisnis Bakso Kelapa Muda, Tampilan Beda Bikin Orang Tergoda
Bagi anak-anak, tukang pentol bukan hanya penjual, tapi semacam teman yang selalu hadir di momen sederhana habis upacara, pulang sekolah, atau sekadar nongkrong di depan gerbang.
Kenangan ini sering terbawa sampai dewasa bikin banyak orang kangen kalau ingat masa-masa jajan pentol bareng teman-teman sekolah dulu.
Di Tulungagung, tukang pentol memang lebih dari sekadar pedagang kaki lima. Mereka adalah bagian kecil dari cerita besar nostalgia masa kecil yang hangat, sederhana, dan sulit tergantikan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana