TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu kebiasaan unik yang mungkin bikin orang luar geleng-geleng kepala.
Banyak warga Tulungagung lebih betah nongkrong di warung kopi daripada duduk santai di ruang tamu rumah sendiri.
Bukan tanpa alasan, warung kopi di Tulungagung sudah jadi semacam “ruang publik” yang menyatukan orang dari berbagai kalangan.
Kalau di kota besar orang sibuk nongkrong di kafe modern dengan menu beraneka ragam, di Tulungagung, justru warung kopi sederhana jadi pilihan.
Kursi panjang dari kayu, meja kecil, hingga televisi yang menyiarkan berita atau pertandingan bola sudah cukup bikin suasana hidup.
Di sini, obrolannya bisa ngalor-ngidul dari politik desa, harga pupuk, sampai gosip artis.
Warung kopi bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan juga jadi pusat informasi.
Banyak orang bilang, kalau mau tahu kabar terbaru di kampung, jangan nunggu koran cukup mampir ke warung kopi.
Mulai dari kabar panen, pembangunan jalan, sampai kabar pernikahan, semua bisa terdengar di sini.
Satu lagi yang bikin orang betah harganya ramah di kantong.
Segelas kopi hitam panas bisa dinikmati berjam-jam sambil ngobrol panjang.
Bahkan banyak yang bilang, nongkrong di warung kopi lebih hemat daripada nyalain AC di rumah sambil nonton TV.
Fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal minuman, tapi soal budaya.
Warung kopi jadi simbol kebersamaan dan keakraban.
Ada semacam rasa “rumah kedua” yang bikin orang merasa diterima apa adanya.
Itulah kenapa, meski punya ruang tamu luas di rumah, banyak orang Tulungagung tetap lebih nyaman menghabiskan waktu di warung kopi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri