Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cuaca Tak Menentu Bikin Tanaman Bawang Merah Milik Petani Tulungagung Rusak, Hasil Panen Ikut Merosot Drastis Dibanding Biasanya

Aditya Yuda Setya Putra • Selasa, 16 September 2025 | 04:13 WIB

Petani bawang merah di Tulungagung sedang merawat tanamannya. (ADITYA YUDA/RADAR TULUNGAGUNG)
Petani bawang merah di Tulungagung sedang merawat tanamannya. (ADITYA YUDA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Cuaca tak menentu di pertengahan tahun ini berdampak pada sektor pertanian Tulungagung, khususnya bawang merah.

Buktinya, produksi bawang merah petani Tulungagung turun akibat banyaknya tanaman milik petani yang rusak begitu diterpa hujan.

Baca Juga: Petani Tulungagung Harap-harap Cemas pada Awal Musim Tanam Kali Ini, Cuaca Tak Mendukung Bisa Memicu Serangan Hama

Ketua kelompok tani (poktan) Desa Kendalbulur, Kacamatan Boyolangu, Tulungagung Endri Cahyono mengungkapkan, jumlah panen bawang merah di tahun ini memang tidak optimal jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

"Karena ada hujan, ada panas, jadi akan sangat sulit sekali untuk budi daya bawang merah. Tapi alhamdulillah untuk di kelompok saya, khususnya Tani Makmur ini, masih bisa panen," ujarnya kemarin.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Tulungagung dalam Seminggu ke Depan, Hindari Waktu Tertentu untuk Kenyamanan Perjalanan Anda

Dia mengaku, dalam kondisi normal, 1 kilogram (kg) bibit bisa menghasilkan sekitar 20 kg bawang merah. Akibat cuaca buruk yang terjadi selama masa tanam beberapa bulan terakhir, jumlah produksi menyusut.

"1 kilogram bibit jadi 15 kilogram. Tapi kalau cuaca normal, saya tanam di sini rata-rata bisa jadi 20 kilogram," paparnya.

Baca Juga: Wedang Uwuh ala Tulungagung, Minuman Hangat Tradisional yang Menyehatkan, Cocok Dinikmati saat Cuaca Dingin

Penyusutan ini akibat umbi bawang merah menyerap terlalu banyak air tanah. Sementara peningkatan volume air tanah terjadi akibat peningkatan curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

"Iya, karena pengaruh. Istilahnya belum sampai umur 60 hari terus keburu rusak. Jadi ndak bisa maksimal umbinya," kata Endri lagi.

Baca Juga: Musim Hujan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia Bakal Datang Lebih Awal Tahun Ini, BMKG Ungkap Penyebabnya

Jumlah luasan lahan tanam bawang merah di Desa Kendalbulur juga ikut menyusut. Hal ini disebabkan adanya beberapa petani yang beralih ke jenis komoditas lain di saat sebagian besar petani lainnya memilih menanam bawang merah.

"Kalau untuk saat ini mungkin hanya 2 hektare. Tapi untuk tahun kemarin banyak. Mungkin ada sampai 5 atau 7 hektare, itu ya model diversifikasi," jelasnya.

Sedianya, para petani berencana menanam bawang merah di bulan kelima dan menanam tembakau di bulan keenam.

Itu dalam kondisi cuaca normal. Tapi, akibat pergeseran cuaca oleh ketidakpastian musim, hal itu sulit direalisasi oleh para petani.

Baca Juga: Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Pulau Bali Akibat Cuaca Ekstrem, Berikut Penjelasan BMKG

Sebetulnya, kondisi ini bisa jadi berkah. Sebab, minimnya jumlah stok berdampak pada peningkatan harga jual komoditas.

Tapi, menurut Endri, petani tetap saja dirugikan begitu hasil produksinya tak sesuai dengan target di awal masa tanam. "Untuk saat ini agak sulit dikarenakan cuaca yang ndak menentu," terangnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #bawang merah #pertanian #cuaca tak menentu