RADAR TULUNGAGUNG - Cuaca tak menentu di pertengahan tahun ini berdampak pada sektor pertanian Tulungagung, khususnya bawang merah.
Buktinya, produksi bawang merah petani Tulungagung turun akibat banyaknya tanaman milik petani yang rusak begitu diterpa hujan.
Ketua kelompok tani (poktan) Desa Kendalbulur, Kacamatan Boyolangu, Tulungagung Endri Cahyono mengungkapkan, jumlah panen bawang merah di tahun ini memang tidak optimal jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
"Karena ada hujan, ada panas, jadi akan sangat sulit sekali untuk budi daya bawang merah. Tapi alhamdulillah untuk di kelompok saya, khususnya Tani Makmur ini, masih bisa panen," ujarnya kemarin.
Dia mengaku, dalam kondisi normal, 1 kilogram (kg) bibit bisa menghasilkan sekitar 20 kg bawang merah. Akibat cuaca buruk yang terjadi selama masa tanam beberapa bulan terakhir, jumlah produksi menyusut.
"1 kilogram bibit jadi 15 kilogram. Tapi kalau cuaca normal, saya tanam di sini rata-rata bisa jadi 20 kilogram," paparnya.
Penyusutan ini akibat umbi bawang merah menyerap terlalu banyak air tanah. Sementara peningkatan volume air tanah terjadi akibat peningkatan curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
"Iya, karena pengaruh. Istilahnya belum sampai umur 60 hari terus keburu rusak. Jadi ndak bisa maksimal umbinya," kata Endri lagi.
Jumlah luasan lahan tanam bawang merah di Desa Kendalbulur juga ikut menyusut. Hal ini disebabkan adanya beberapa petani yang beralih ke jenis komoditas lain di saat sebagian besar petani lainnya memilih menanam bawang merah.
"Kalau untuk saat ini mungkin hanya 2 hektare. Tapi untuk tahun kemarin banyak. Mungkin ada sampai 5 atau 7 hektare, itu ya model diversifikasi," jelasnya.
Sedianya, para petani berencana menanam bawang merah di bulan kelima dan menanam tembakau di bulan keenam.
Itu dalam kondisi cuaca normal. Tapi, akibat pergeseran cuaca oleh ketidakpastian musim, hal itu sulit direalisasi oleh para petani.
Baca Juga: Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Pulau Bali Akibat Cuaca Ekstrem, Berikut Penjelasan BMKG
Sebetulnya, kondisi ini bisa jadi berkah. Sebab, minimnya jumlah stok berdampak pada peningkatan harga jual komoditas.
Tapi, menurut Endri, petani tetap saja dirugikan begitu hasil produksinya tak sesuai dengan target di awal masa tanam. "Untuk saat ini agak sulit dikarenakan cuaca yang ndak menentu," terangnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana