RADAR TULUNGAGUNG - Kalau pernah lewat depan sekolah dasar di Tulungagung, pasti sering lihat pemandangan yang sama deretan penjual mainan anak yang mangkal setiap pagi atau siang, menunggu murid-murid keluar.
Mainannya macam-macam, mulai dari balon tiup, yoyo, slime, kincir angin, hingga jajanan kecil yang digabung dengan hadiah mainan mini yang menarik minat bocah Tulungagung untuk membeli.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu punya daya tarik tersendiri. Buat anak-anak, penjual mainan di depan sekolah itu ibarat “surga kecil” setelah seharian belajar.
Mereka bisa jajan sekaligus dapat hiburan. Buat pedagang, sekolah adalah pasar yang paling strategis karena pembelinya pasti ada setiap hari.
Baca Juga: Ngaji Sambil Mainan Tradisi TPQ Tulungagung yang Tetap Bertahan di Era Gadget
Yang menarik, tren mainan yang dijual juga cepat berubah. Kalau dulu anak-anak heboh dengan tamiya, sekarang bisa berganti jadi pop it, kartu karakter, atau mainan yang lagi viral di media sosial.
Pedagang mainan ini seperti punya radar khusus alias tahu betul tren apa yang bakal laris di kalangan anak sekolah.
Baca Juga: Penjual Mainan Tradisional Keliling Tulungagung, Menjaga Kenangan di Tengah Gempuran Gawai
Di sisi lain, fenomena ini juga sering jadi perdebatan. Ada orang tua yang khawatir anaknya terlalu boros uang jajan untuk beli mainan, sementara guru kadang kerepotan mengingatkan murid agar tidak membawa mainan ke kelas.
Tapi pada akhirnya, penjual mainan tetap jadi bagian dari warna-warni kehidupan sekolah dasar di Tulungagung sebuah tradisi kecil yang melekat dari generasi ke generasi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana