RADAR TULUNGAGUNG - Kalau mampir ke warung kopi di Tulungagung, jangan heran kalau kursi panjang dari kayu masih jadi pilihan utama.
Meski zaman sudah modern, dengan banyak kafe kekinian menawarkan sofa empuk atau kursi estetik, warung kopi tradisional tetap setia dengan bangku kayu panjang yang sederhana.
Baca Juga: Kreatif, Cobek Kayu Glonggong Tulungagung Mampu Menembus Pasar Luar Jawa
Alasannya? Karena kursi panjang bukan sekadar tempat duduk, tapi bagian dari budaya nongkrong. Kursi ini memungkinkan banyak orang duduk bersama tanpa batasan.
Mulai dari bapak-bapak yang ngobrol soal sawah, anak muda main gitar, sampai pedagang yang istirahat sejenak. Semua bisa kumpul di bangku yang sama.
Baca Juga: Mainan Jadul di Tulungagung yang Masih Dibuat Manual dari Gasing Kayu sampai Balon Tiup Odol
Selain itu, kursi kayu panjang lebih awet, gampang dipindah, dan murah perawatannya. Buat pemilik warung, ini jelas lebih praktis dibandingkan kursi modern.
Ditambah lagi, ada sensasi khas saat duduk di bangku kayu sambil menikmati kopi panas dan gorengan hangat suasana yang bikin betah berlama-lama.
Baca Juga: Mistisme Kayu Nagasari untuk Warangka Gayaman
Jadi, meski desain warung kopi sudah banyak berubah, kursi panjang dari kayu tetap jadi simbol kehangatan.
Tempat sederhana tapi mampu menyatukan obrolan, canda, bahkan persahabatan. Karena di Tulungagung, yang penting bukan kursinya empuk atau mewah, tapi kebersamaan yang terjalin di atasnya.
Editor : Dharaka R. Perdana