RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah zaman serba cepat, ketika motor dan ojek online bisa dengan mudah mengantarkan kita ke mana saja, ada satu kebiasaan yang masih bertahan di Tulungagung jalan kaki ke pasar.
Dari ibu-ibu yang membawa keranjang belanja, bapak-bapak yang santai menyusuri gang, sampai anak muda yang ikut menemani orang tua, suasana pagi di jalan menuju pasar di Tulungagung selalu ramai dengan langkah kaki.
Buat sebagian orang, jalan kaki ke pasar bukan sekadar cara hemat ongkos, tapi juga bagian dari tradisi.
Pasar biasanya tidak terlalu jauh dari perkampungan, sehingga cukup ditempuh dengan berjalan.
Sambil melangkah, banyak yang sekalian mampir ke rumah tetangga, saling sapa, atau bahkan ngobrol sebentar di pinggir jalan.
Dari sinilah, pasar jadi lebih dari sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Selain itu, jalan kaki ke pasar juga jadi “ritual kecil” yang bikin tubuh tetap bergerak. Orang-orang mungkin tidak menyadarinya, tapi kebiasaan ini secara alami membuat mereka tetap aktif dan sehat.
Ditambah lagi, ada rasa puas tersendiri ketika bisa membawa pulang belanjaan segar hasil pilihan sendiri, setelah menempuh perjalanan dengan langkah kaki.
Baca Juga: Pasar Loak Tulungagung, Jujukan Penggemar Barang Antik dan Unik dengan Harga Terjangkau
Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi banyak orang Tulungagung, pasar tradisional bukan hanya soal belanja kebutuhan harian, tapi juga tempat bertemu, bercerita, dan menjaga keakraban.
Jadi jangan heran kalau setiap pagi, jalan menuju pasar selalu ramai dengan obrolan ringan, tawa, dan suara sandal yang berderap di jalanan.
Mungkin sederhana, tapi justru di situlah hangatnya: jalan kaki ke pasar jadi cara masyarakat Tulungagung merawat kedekatan, sekaligus menjaga tradisi yang sudah turun-temurun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana