RADAR TULUNGAGUNG - Rencana aksi unjuk rasa ratusan pengemudi ojek online (ojol) di Tulungagung pada bulan September ini batal digelar.
Sebelumnya, perkumpulan pengemudi ojol di seluruh Kabupaten Tulungagung dan sekitarnya akan menggelar aksi di depan Mapolres Tulungagung.
Demo tersebut merupakan bentuk aksi solidaritas dari para pengemudi ojol di Tulungagung untuk mencari keadilan bagi pengemudi ojol yang meninggal dalam aksi demonstrasi di Jakarta beberapa waktu lalu.
Namun, karena kondisi diberbagai kota di sekitar Tulungagung mengalami kerusuhan, maka aksi di Tulungagung juga dibatalkan.
Baca Juga: Polres Tulungagung Gelar Salat Gaib Doakan Almarhum Driver Ojek daring Affan
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Perkumpulan Ojek Online Tulungagung (Polta), Arif Maftuh. Dia menjelaskan bahwa pembatalan ini dilakukan setelah adanya informasi intelijen terkait potensi penyusupan pihak luar.
“Awalnya kami hanya ingin menggelar salat gaib dan tahlilan untuk almarhum. Namun, karena ada kabar akan ada penyusup, akhirnya kegiatan itu kami batalkan. Tujuannya agar kondisi kota tetap aman dan tenang,” ungkap Arif.
Menurut dia, jumlah total pengemudi yang tergabung dalam Polta mencapai 600 orang dari sepuluh komunitas.
Jika semua turun ke jalan, jumlah itu dinilai cukup besar untuk ukuran kota kecil seperti Tulungagung. Karena itu, pihaknya memutuskan berkoordinasi erat dengan polres untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Baca Juga: 5 Tips Naik Ojek Online di Tulungagung Biar Nggak Salah Titik Jemput saat Liburan
Sebab di kota-kota lain telah terjadi kerusuhan dan mengakibatkan kerusakan fasilitas umum. Padahal, kerusuhan tersebut berawal dari aksi demo yang disusupi oleh provokator.
“Setiap selter, kami tugaskan memantau perkembangan. Bila ada provokasi, kami lebih memilih menanganinya secara internal agar tidak menimbulkan keresahan,” tambahnya.
Dia menyebut lebih baik untuk menjaga kondusivitas Kabupaten Tulungagung. Karena, masyarakat Tulungagung tidak menginginkan kerusuhan, apalagi yang menyebabkan perusakan fasilitas umum.
"Mungkin penyampaian aspirasi atau unjuk rasa ke depannya bisa tetap kami lakukan dengan cara yang lebih baik dan aman. Sehingga tidak mengganggu ketertiban masyarakat umum di Kabupaten Tulungagung ini," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana