RADAR TULUNGAGUNG - Sore itu, pada hari Rabu, (1/10/2025) langit mendung menutup Dusun Doropayung, Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Hujan turun, tapi tak disangka angin kencang tiba-tiba datang menyapu wilayah desa tersebut. Dalam waktu yang sangat singkat, rumah-rumah warga porak-poranda.
Salah satu warga Desa Doroampel bernama Sidiq Purnomo mengaku masih sulit percaya dengan apa yang dialaminya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, 65 persen bagian atap rumahnya hancur diterjang angin berkecepatan tinggi itu.
Atap genting dan asbes beterbangan, dan ruang yang biasa menjadi tempat istirahat keluarganya berubah menjadi tumpukan puing.
“Ceritanya itu sangat singkat sekali. Mungkin enggak sampai lima menit. Ketika saya pulang dari sawah, di jalan sudah banyak pohon tumbang. Sampai rumah, semuanya sudah hancur,” ucap Sidiq dengan suara berat, Kamis (2/10/2025).
Pagi harinya, sambil membersihkan puing-puing rontokan atap rumah, Sidiq membagikan ceritanya ketika angin puting beliung datang kepada Radar Tulungagung. Saat itu, ia baru saja meletakkan terpal di sawahnya.
Begitu pulang, ia nekat menerjang derasnya hujan dan angin karena khawatir teringat anggota keluarganya masih di dalam rumah.
Di tengah jalan, pandangannya disuguhi pohon-pohon besar tumbang. Sesampainya di rumah, yang ia lihat rumahnya sudah tak beratap.
Baca Juga: Tiga Desa di Sumbergempol Tulungagung Tersapu Angin Kencang, Rumah dan Kandang Porak Poranda
Untungnya, istri dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri di satu ruang bagian belakang rumah yang relatif lebih aman.
“Keluarga sembunyi di pojokan, masih ada sedikit ruang yang utuh. Tapi kondisi mereka gemetar, ketakutan,” kenangnya.
Malam itu, Sidiq dan keluarganya harus menerima kenyataan tidur seadanya. Semua barang basah, sebagian rusak, dan atap rumah bolong.
“Istirahatnya darurat, apa adanya. Hanya beralaskan tikar basah. Untung masih ada sedikit bagian rumah di belakang yang bisa dipakai berteduh,” tambahnya.
Bagi Sidiq, bencana ini bukan hanya menghancurkan rumah, tetapi juga memukul kehidupannya sehari-hari.
Dia mengaku tak bisa kerja karena rumahnya masih berantakan dan harus segera dibersihkan. Sebagai buruh serabutan, kehilangan satu hari kerja saja sudah membuatnya bingung memikirkan nafkah. Kini, dengan rumah rusak parah, pikirannya semakin terbebani.
“Kalau enggak kerja sehari saja sudah bingung. Apalagi sekarang harus memikirkan rumah rusak begini. Harapannya, ada sedikit bantuan dari pemerintah, minimal bisa meringankan beban,” ujarnya lirih.
Baca Juga: Benarkah Indonesia Sudah Memasuki Musim Hujan? Ini Penjelasan Lengkap dari BMKG!
Ia menyadari, bencana adalah hal yang tak bisa diprediksi. Namun, tetap saja kehilangan kenyamanan tempat tinggal membuat hidup semakin berat.
“Kita nggak tahu bencana seperti ini datang. Ya mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah walaupun sedikit, itu sudah sangat membantu,” tutupnya penuh harap. ****
Editor : Dharaka R. Perdana