RADAR TULUNGAGUNG – Bencana angin kencang yang melanda wilayah Tulungagung, Rabu (1/10/2025), ternyata tidak hanya merusak ratusan rumah warga. Namun dampaknya juga dirasakan di sektor peternakan.
Sejumlah kandang ayam dan kambing milik warga dilaporkan mengalami kerusakan, meski kondisi hewan ternak sebagian besar dalam keadaan aman.
Koordinator tim dokter hewan Dinas Peternakan Tulungagung, drh Adex Faizal Rochiem, menyebutkan terdapat satu kandang ayam komersial di Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol yang ambruk akibat terjangan angin.
“Kalau yang di Doroampel, ada kandang ayam yang roboh. Itu secara komersial tentu sangat merugikan, karena berpengaruh langsung pada pemasukan peternak,” jelasnya.
Selain ayam, kerusakan juga menimpa beberapa kandang kambing. Berdasarkan pendataan sementara, ada dua kandang yang rusak dengan jumlah ternak berkisar lima hingga tujuh ekor.
“Untuk kambing kondisinya aman, tidak ada laporan kematian. Namun, potensi stres pada hewan tetap ada akibat angin kencang dan suara yang menggelegar,” tambah Adex.
Adex menjelaskan Dinas Peternakan Tulungagung telah menyiapkan langkah-langkah penanganan berupa pemberian vitamin untuk mencegah stres berlebihan pada ternak.
Menurut Adex, suara bising dan kejutan akibat bencana juga dapat berdampak buruk pada kesehatan hewan yang sedang bunting, karena bisa memicu terjadinya keguguran pada hewan. Dalam kasus ini rata-rata ternak warga di daerah sini adalah kambing dan ayam.
“Kalau sampai terjadi keguguran, kerugian bisa semakin besar karena waktu bunting kambing itu sekitar lima bulan. Jadi peternak bisa kehilangan potensi hasil ternaknya,” ungkapnya.
Pihaknya menegaskan bahwa meski dampak terhadap ternak tidak sebesar kerusakan rumah warga, sektor peternakan tetap perlu mendapat perhatian.
“Kami terus melakukan pendataan, sekaligus memberi masukan agar ke depan ada upaya pencegahan dan penanganan lebih baik. Terutama bagi peternak ayam pedaging yang kebanyakan bermitra dengan perusahaan swasta,” pungkas Adex, yang sehari-hari bertugas di Puskeswan Ngunut. ****
Editor : Dharaka R. Perdana