RADAR TULUNGAGUNG - Dari Karnaval 17 Agustus, Grebeg Suro, hingga Kirab Budaya kalau ada satu hal yang bikin Tulungagung selalu meriah, jawabannya adalah pawai.
Hampir di setiap momen penting, jalanan kota ini berubah jadi panggung raksasa ada yang tampil dengan kostum megah, ada pula rombongan seni tradisi, bahkan tak jarang diselipkan atraksi unik yang bikin penonton terhibur.
Mulai dari karnaval 17 Agustus, ketika warga tumpah ruah merayakan kemerdekaan dengan baju kreasi dan pertunjukan jalanan, hingga Grebeg Suro, agenda tahunan yang selalu ditunggu karena menampilkan budaya Jawa penuh makna spiritual.
Belum lagi kirab budaya, yang menjadi wadah ekspresi kesenian lokal sekaligus ajang silaturahmi antarwarga.
Bagi orang Tulungagung, pawai bukan sekadar tontonan. Ia adalah bagian dari identitas sosial dan kebersamaan.
Semua orang terlibat, mulai dari pelajar, komunitas, perangkat desa, sampai seniman jalanan. Penonton pun ikut ambil bagian dengan memberi tepuk tangan, merekam, hingga memenuhi beranda media sosial dengan foto dan video.
Baca Juga: Karnaval Desa di Tulungagung Jadi Ajang Kreativitas Warga, dari Sampah Jadi Kostum Mempesona
Tak heran kalau setiap kali ada pawai, jalanan macet bukan masalah justru jadi momen berkumpul, tertawa, dan menikmati kebanggaan akan budaya sendiri.
Bagi orang Tulungagung, pawai adalah cara sederhana tapi kuat untuk mengatakan “Inilah kami, inilah kebersamaan kami.” ****
Editor : Dharaka R. Perdana