RADAR TULUNGAGUNG – 55 siswa SMP Negeri 1 Boyolangu di Tulungagung diduga mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (13/10).
Dari jumlah tersebut, empat siswa terpaksa dirujuk ke rumah sakit karena mengalami sesak, muntah, dan badan menggigil.
Sementara puluhan siswa lainnya mendapat perawatan intensitf di Puskesmas Boyolangu, Tulungagung.
Kepala SMPN 1 Boyolangu, Adi Sutignyo, menjelaskan bahwa kejadian bermula setelah para siswa menerima jatah makan sekira pukul 08.00.
Tak lama kemudian, sekira pukul 08.30 beberapa siswa mengeluhkan mual dan pusing, bahkan sebagian mengaku tenggorokannya terasa tidak nyaman.
“Anak-anak makan sekitar pukul 08.00. Tak lama setelah itu beberapa siswa datang ke petugas UKS, mengeluh perutnya mual dan pusing. Kebetulan hari ini juga ada petugas Puskesmas Boyolangu yang sedang melakukan skrining kesehatan, jadi langsung ditangani dan dibawa ke puskesmas,” jelasnya.
Program MBG di sekolah tersebut sebenarnya telah berjalan lebih dari empat bulan. Namun, menurut kepala sekolah, kejadian kali ini bertepatan dengan perubahan dapur umum penyedia makanan.
“Sebelumnya dapur umum kami di Desa Pojok. Baru hari ini diganti dan dikirim dari dapur umum di Desa Tanggung. Mungkin karena lebih dekat,” ungkapnya.
Adapun menu makan siang hari itu terdiri dari nasi kuning, ayam bumbu kecap tanpa kuah, irisan timun dan tomat, buah salak, serta susu kotak.
Dia juga menjelaskan ketika pembagian MBG, sebagian siswa mengaku makanannya berbau dan merasa aneh dengan tampilannya.
“Ada beberapa anak yang bilang bau makanannya agak aneh, mungkin karena wadahnya (ompreng) berbeda dari biasanya. Tapi kami belum bisa memastikan penyebab pastinya,” ujarnya.
Dari total 55 siswa yang terdampak, 22 di antaranya laki-laki dan sisanya perempuan. Empat siswa dirujuk ke rumah sakit di antaranya tiga perempuan dan satu laki-laki mengalami gejala yang lebih parah yaitu sesak napas dan muntah berlebih, sementara lainnya mendapat perawatan di Puskesmas Boyolangu.
Pihak sekolah berharap ada evaluasi dari penyedia MBG terkait kejadian tersebut.
“Harapan kami, pihak dapur bisa memastikan makanan benar-benar sehat dan aman untuk anak-anak. Mungkin ini juga karena ketahanan tubuh tiap anak berbeda,” tutur kepala sekolah.
Untuk sementara, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara penyaluran makanan MBG di sekolah hingga ada evaluasi dari pihak terkait.
“Biar anak-anak tidak trauma dulu. Kami juga menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari puskesmas dan tim kesehatan,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana