RADAR TULUNGAGUNG – Penyebab pasti keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 55 siswa SMPN 1 Boyolangu pada Senin (13/10/2025) masih dalam penyelidikan.
Namun sebelum menyantap makanan, beberapa siswa sempat mencium bau aneh dari menu MBG yang mereka terima.
Baca Juga: 55 Siswa SMPN 1 Boyolangu Keracunan Makanan Program MBG, Empat Orang Dirujuk ke Rumah Sakit
Bahkan, beberapa di antaranya mengaku tampilan nasi kuning dan lauk ayam bumbu kecap yang disajikan tampak berbeda dari biasanya.
“Ada beberapa anak yang bilang bau makanannya agak aneh, mungkin karena wadahnya (ompreng) berbeda dari biasanya. Tapi kami belum bisa memastikan penyebab pastinya,” ujar Kepala SMPN 1 Boyolangu, Adi Sutignyo.
Menurut Adi, pembagian jatah makan dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB. Tak lama setelah itu, sejumlah siswa datang ke petugas UKS dengan keluhan mual dan pusing.
“Anak-anak makan sekitar pukul 08.00. Tak lama setelah itu beberapa siswa datang ke petugas UKS, mengeluh perutnya mual dan pusing. Kebetulan hari ini juga ada petugas Puskesmas Boyolangu yang sedang melakukan skrining kesehatan, jadi langsung ditangani dan dibawa ke puskesmas,” jelasnya.
Menu MBG hari itu terdiri dari nasi kuning, ayam bumbu kecap tanpa kuah, irisan timun dan tomat, buah salak, serta susu kotak.
Adi menambahkan, program MBG di sekolah tersebut sebenarnya sudah berjalan lebih dari empat bulan tanpa kendala.
Namun, insiden kali ini bertepatan dengan pergantian dapur umum penyedia makanan, yang sebelumnya berlokasi di Desa Pojok dan kini berpindah ke Desa Tanggung.
“Sebelumnya dapur umum kami di Desa Pojok. Baru hari ini diganti dan dikirim dari dapur umum di Desa Tanggung. Mungkin karena lebih dekat,” ungkapnya.
Hingga kini, petugas Puskesmas Boyolangu bersama pihak sekolah masih menelusuri penyebab pasti keluhan yang dialami siswa. Sampel makanan telah diambil untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
Pihak sekolah berharap hasil pemeriksaan segera keluar agar kejadian serupa tidak terulang, dan kualitas makanan MBG tetap terjamin aman dikonsumsi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana