RADAR TULUNGAGUNG – Pasca insiden dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di SMPN 1 Boyolangu, muncul isu baru yang sempat viral di media sosial di Tulungagung.
Isu tersebut menyebutkan bahwa makanan MBG di SMPN 3 Tulungagung ditemukan ulat di salah satu menu sayur wortel, pada Selasa (14/10).
Kabar itu sempat membuat geger masyarakat, terutama karena beredar luas di sejumlah grup percakapan daring. Namun, pihak sekolah dengan tegas membantah kebenaran informasi tersebut.
Kepala SMPN 3 Tulungagung, Heni Hendarto, yang juga menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Tulungagung, memastikan bahwa tidak ada temuan maupun laporan resmi terkait dugaan makanan tidak layak konsumsi di sekolahnya.
“Saya juga menerima kiriman dari teman-teman media soal kabar itu. Tapi setelah saya cek, tidak ada keluhan dari siswa maupun laporan resmi ke sekolah. Semua aman,” jelas Heni kepada Radar Tulungagung, Selasa (14/10).
Heni menambahkan, program MBG di SMPN 3 Tulungagung baru berjalan selama dua hari, yakni sejak Senin (13/10).
Dalam pelaksanaannya, penyedia layanan makan berasal dari SPPG Ketanon. Total penerima manfaat di sekolah tersebut sekitar 1.300 siswa.
“Hari pertama dan kedua alhamdulillah aman. Tidak ada laporan anak sakit atau mengeluh soal makanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Heni menjelaskan bahwa pihak sekolah hanya berperan sebagai penerima manfaat dari program pemerintah.
Sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan menu, namun tetap mengedepankan aspek keamanan pangan.
“Program ini fokus pada makanan sehat, bukan makanan enak. Anak-anak perlu dibiasakan dengan pola makan bergizi. Tapi kalau ada masalah, tentu kami laporkan langsung ke SPPG dan aparat kesehatan,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Heni juga menekankan pentingnya pengawasan ketat dari penyedia layanan makan (SPPG).
Baca Juga: Puluhan Siswa Keracunan MBG, Komisi C DPRD Tulungagung Minta SPPG Campurdarat Ditutup Sementara
Ia berharap semua pihak yang terlibat dapat menjaga kualitas bahan dan proses pengolahan agar tidak menimbulkan keresahan publik.
“Kalau sampai membahayakan anak-anak, saya pun tidak akan berkenan program itu dilanjutkan dulu. Lebih baik dievaluasi agar anak-anak dan orang tua tidak trauma,” tutupnya.
Dengan klarifikasi tersebut, isu terkait dugaan ulat dalam makanan MBG di SMPN 3 Tulungagung hanya sekadar isu. Kegiatan pembagian makanan bergizi di sekolah itu pun berjalan normal dan aman. ****
Editor : Dharaka R. Perdana