TULUNGAGUNG – Setelah sukses ikut serta dalam RaTu Film Festival (RFF) tahun sebelumnya, tim Broadcastkita kembali ambil bagian di RFF 2025, kali ini di kategori umum.
Langkah baru ini menjadi bentuk tantangan bagi mereka untuk terus berkembang. Bukan hanya dalam hal teknis produksi, melainkan juga kedewasaan dalam bercerita.
Menurut perwakilan tim Broadcastkita, Edo Trianto, pengalaman syuting tahun ini penuh warna dan tawa.
“Hal paling menarik adalah bagaimana kami melewati berbagai masalah bareng-bareng. Mulai dari jadwal yang padat, cuaca yang nggak menentu, sampai momen bloopers di lokasi. Tapi justru dari situ serunya muncul! Hampir semua adegan penuh tawa, sampai susah nahan ekspresi,” ujarnya sambil tertawa.
Edo menambahkan, semangat tim tahun ini sangat besar. “Antusiasme kami luar biasa. Tahun lalu ikut kategori pelajar, sekarang ikut kategori umum. Bukan karena merasa lebih hebat, tapi kami ingin menantang diri sendiri. Tujuan utama kami bukan sekadar menang, tapi menikmati proses untuk bekerja sama dan belajar bareng teman-teman satu tim. Buat kami, momen di balik layar jauh lebih berharga daripada sekadar piala,” ungkapnya.
Namun, di balik keseruan itu, proses produksi juga diwarnai berbagai tantangan, terutama soal waktu dan lokasi.
“Kebetulan kami sedang PKL di tempat yang berbeda-beda, jadi agak susah ngumpul buat bahas alur cerita dan teknis. Selain itu, cuaca sempat nggak mendukung, jadi kami harus putar otak supaya syuting tetap jalan tanpa kehilangan esensi cerita,” jelas Edo.
Terkait tema RFF 2025 yaitu Merayakan (tidak) Hilangnya Kepedulian, Edo menilai tema ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini.
“Tema ini keren banget. Di tengah dunia yang serbacepat dan sibuk, rasa peduli jangan sampai hilang. Lewat film ini, kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian bisa muncul dari hal-hal sederhana. Kami kemas dalam nuansa komedi romantis supaya pesan moral bisa tersampaikan dengan ringan dan menyenangkan,” katanya.
Sebagai peserta yang sudah dua kali ikut RFF, Edo mengakui bahwa tantangan tahun ini terasa berbeda.
“Kalau dulu lawannya sesama pelajar, sekarang kami bersaing dengan tim yang jauh lebih berpengalaman. Tapi di situ serunya, karena kami bisa belajar banyak dan menguji seberapa jauh kemampuan kami berkembang dibanding tahun lalu,” tuturnya.
Lewat karya yang mereka buat, tim Broadcastkita ingin menyampaikan pesan penting tentang kepedulian terhadap budaya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian bisa diwujudkan lewat cara yang ringan dan menghibur. Film kami bercerita tentang bagaimana nilai-nilai budaya sering terlupakan di tengah urusan perasaan dan kehidupan modern. Tapi justru lewat hubungan dan interaksi antarkarakter, kita bisa belajar bahwa cinta itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga menghargai akar budaya dan unggah-ungguh yang membentuk kita,” pungkas Edo.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Broadcastkita kembali membuktikan bahwa film bukan sekadar karya visual, melainkan cerminan nilai, semangat, dan identitas generasi muda yang terus belajar untuk peduli dengan sesama, dengan budaya, dan dengan proses itu sendiri. (sri/c1/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah