RADAR TULUNGAGUNG - Ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata setiap kali langkah kembali menapaki tanah Tulungagung.
Jalanan yang dulu terasa sempit kini mungkin sudah diperlebar, tapi rasanya tetap sama hangat dan akrab. Seolah setiap pohon, setiap tikungan, dan bahkan suara jangkrik malam tahu, “Anaknya sudah pulang.”
Baca Juga: Tradisi Bawa Bekal di Tulungagung: Antara Hemat, Lucu, dan Penuh Kehangatan
Tak ada sambutan megah, tak ada karpet merah, tapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga aroma masakan ibu dari dapur.
Nasi hangat yang mengepul bersama sambal terasi, dan suara sendok bertemu piring yang terdengar seperti lagu kenangan. Semua sederhana, tapi di situlah letak keistimewaannya.
Baca Juga: Meski Makanan Modern Makin Bertebaran di Tulungagung, Pedagang Nasi Pecel Tak Kehilangan Penggemar
Di Tulungagung, pulang bukan tentang tempat tidur yang empuk atau liburan singkat. Pulang adalah tentang mengisi ulang jiwa menemukan kembali potongan diri yang mungkin hilang di hiruk-pikuk kota.
Angin sore yang membawa wangi padi, tawa tetangga yang tak berubah sejak kecil, dan udara malam yang tenang seperti doa semuanya menjadi pengingat betapa kampung halaman tidak pernah menuntut apa-apa. Ia hanya menerima.
Tak ada pertanyaan seperti “Sudah sukses belum?” atau “Kapan nikah?” Di sini, satu senyum dan secangkir teh hangat sudah cukup.
Tulungagung menyambut tanpa banyak tanya, karena ia tahu: setiap yang pulang membawa cerita, entah bahagia atau lelah. Dan kampung halaman selalu siap mendengarkan, diam-diam, tanpa menghakimi.
Pada akhirnya, pulang ke Tulungagung bukan sekadar kembali ke tempat lahir tetapi kembali ke diri sendiri.
Tempat di mana hati bisa beristirahat, meski hanya sejenak, sebelum kembali berjuang di dunia luar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana