RADAR TULUNGAGUNG - Rentang waktu mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dipikirkan pengelola SPPG di Tulungagung.
Tujuannya agar kasus keracunan makanan MBG di SMPN 1 Boyolangu pada Senin 13 Oktober lalu tidak terulang lagi.
Hal tersebut diungkapkan Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan. Dia menilai pentingnya edukasi bagi penerima manfaat program agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
dr Aris menjelaskan bahwa program MBG merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap gizi masyarakat, termasuk anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Baca Juga: MBG Jadi Sorotan DPRD Tulungagung dan Akan Lakukan Sidak untuk Jamin Kualitas dan Kelayakan Menu
Namun, menurut dia, ada hal-hal teknis yang harus diperhatikan agar makanan tetap aman dikonsumsi.
“Yang pertama harus diperhatikan adalah waktu penerimaan makanan. Misalnya kalau makanan diterima pagi hari, maka itu digunakan untuk menu sarapan, bukan untuk makan siang atau sore. Begitu pula sebaliknya,” terangnya ketika dikonfirmasi, Jumat (17/10).
Dia menegaskan bahwa setiap paket makanan MBG disiapkan hanya untuk satu kali waktu konsumsi, bukan untuk disimpan atau dikonsumsi di waktu berbeda.
Hal ini penting diketahui karena proses distribusi dan penyajian makanan massal melibatkan banyak pihak sehingga risiko perubahan kualitas makanan bisa meningkat seiring waktu.
Baca Juga: Dukung Gizi Anak Bangsa, Dapur SPPG Polres Blora Layani 2.515 Penerima Manfaat melalui Program MBG
Selain memperhatikan waktu konsumsi, dr Aris juga mengingatkan agar penerima MBG mampu mengenali tanda-tanda makanan yang tidak layak dikonsumsi.
“Kalau ada bau yang berubah, rasa yang tidak wajar, atau tekstur yang berbeda dari biasanya, misalnya nasi jadi lembek atau berair padahal seharusnya kering, sebaiknya jangan dimakan,”ujarnya.
Dia mencontohkan, makanan seperti nasi goreng seharusnya bertekstur kering dan beraroma gurih. Jika berubah menjadi lembek atau berbau asam itu bisa jadi tanda adanya proses pembusukan oleh bakteri.
Begitu juga pada menu buah-buahan, terutama yang sudah dikupas, memiliki masa simpan lebih pendek dan mudah rusak.“Buah yang sudah dikupas itu lebih cepat berubah rasa dan teksturnya. Kalau baunya sudah tidak segar, sebaiknya dihindari,” tambahnya.
Selain dari aspek makanan, dr Aris juga menyoroti pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) bagi siswa penerima MBG.
“Sebelum makan, pastikan mencuci tangan dengan sabun. Karena kadang anak-anak langsung makan tanpa tahu apakah tangannya bersih atau tidak. Hal sederhana ini bisa mencegah masalah pencernaan,” jelasnya.
Dia menambahkan, dapur penyedia MBG juga harus mengutamakan kepentingan kesehatan, mulai dari kebersihan bahan baku, air yang digunakan, hingga proses pengemasan dan distribusi.
Namun, faktor kebiasaan penerima manfaat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan konsumsi.
“Dapur MBG itu menyiapkan ribuan porsi setiap hari. Jadi bukan hanya dari sisi penyedia yang harus dijaga, tapi penerima juga perlu disiplin. Kalau sudah dibagikan, segera dikonsumsi, jangan ditunda atau dibawa pulang untuk dimakan nanti,” tegasnya.
Dia berharap masyarakat dan penerima program MBG tidak cemas secara berlebihan, tapi tetap waspada dan bijak dalam mengonsumsi makanan bantuan pemerintah.
“Harapannya tidak ada lagi kejadian serupa. Program MBG ini tujuannya baik, untuk memenuhi gizi anak-anak dan masyarakat. Jadi, mari kita jaga bersama agar tetap aman dan bermanfaat,” pungkas dr Aris. ****
Editor : Dharaka R. Perdana